
Aktivis Sarankan Sekolah Tidak Pungut Biaya Perpisahan

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Aktivis pendidikan dari Komunitas Bakti Bangsa menyarankan para pengelola sekolah tidak memungut biaya perpisahan dari siswa yang lulus, sebab pembebanan itu dianggapnya bertentangan dengan berbagai program pemerintah dalam meringankan tanggungan orang tua.
"Pemerintah berkeinginan kuat meringankan beban orang tua siswa melalui berbagai kebijakan, tetapi kenyataannya sekolah masih membebankan biaya perpisahan ke siswa yang akan tamat. Ini adalah situasi yang kontradiktif, yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak," ungkap Ketua Komunitas Bakti Bangsa Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Wahyu Dwi Hidayat, Senin.
Menurut dia, acara perpisahan bukan hal yang salah dilaksanakan di sekolah pada setiap tahun, namun sebaiknya pihak sekolah tidak membebankan biaya ke para siswa.
Ia berpendapat, walaupun pihak sekolah melibatkan orang tua siswa dalam menetapkan besaran biaya acara perpisahan, kebijakan itu tetap tidak sejalan dengan semangat pemerintah untuk menghapuskan biaya pendidikan.
"Pihak sekolah harus menggunakan cara-cara bijak agar siswa tidak merasa terbebani dengan acara tersebut. Acara perpisahan juga sebaiknya tidak dilakukan secara besar-besaran, karena itu tidak memberi dampak yang positif pada para siswa," ungkapnya.
Beberapa orang tua siswa, terutama dari kalangan kurang mampu, mengeluhkan biaya acara perpisahan yang dibebankan oleh pihak sekolah. Biaya perpisahan di sekolah mulai dari SD-SMA bervariasi mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah, ditetapkan berdasarkan hasil rapat antara orang tua siswa dengan pihak sekolah.
Orang tua siswa terpaksa membayarnya, karena khawatir berdampak pada mental anaknya dan juga nilai di sekolah.
"Situasi pahit itu sebenarnya dihadapi orang tua siswa, terutama yang berasal dari keluarga tidak mampu, setiap tahun. Apakah kita harus membiarkannya?" ujarnya, yang juga mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Wahyu mengungkapkan, beban hidup orang tua dari siswa yang tamat SD, SMP dan SMA yang berasal dari keluarga kurang mampu semakin bertambah, karena harus menyiapkan putra putrinya untuk melanjutkan pendidikan. Mereka harus menyiapkan biaya masuk sekolah, pakaian seragam dan perlengkapan sekolah.
"Tentu itu bukan hari-hari yang menyenangkan yang dilalui oleh para orang tua siswa dari kalangan kurang mampu," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
