
Menata ulang masa depan perbatasan melalui Sekolah Rakyat 32 di Natuna

Natuna (ANTARA) - Langit Natuna masih gelap ketika lampu-lampu di Asrama Haji Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, menyala satu per satu. Jam belum menunjukkan waktu sholat Subuh, tetapi kehidupan sudah bergerak pelan di dalam bangunan itu.
Dari balik pintu kamar, anak-anak berusia tujuh hingga belasan tahun bangun dari tidur. Ada yang masih mengucek mata, ada pula yang langsung duduk dan merapikan selimut dengan gerakan terlatih.
Tak ada teriakan atau perintah keras. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Selimut dilipat rapi, sandal disusun sejajar, lalu langkah-langkah kecil bergerak menuju ke Masjid Agung Baitull Izzah Natuna, yang berada tepat di sebelah Asrama Haji yang menjadi lokasi Sekolah Rakyat 32.
Di Sekolah Rakyat 32, rutinitas pagi bukan sekadar kewajiban. Ia tumbuh menjadi kebiasaan, dibangun perlahan, hari demi hari, hingga tertanam dalam keseharian anak-anak.
Seusai beribadah, asrama mulai dipenuhi aktivitas. Anak-anak membersihkan diri, merapikan lingkungan, lalu melakukan olahraga ringan bersama. Tawa kecil sesekali terdengar, menyelip di antara barisan yang bergerak serempak.
Semua tampak sederhana, bahkan biasa saja. Namun bagi sebagian anak-anak, pagi seperti itu adalah kemewahan yang dulu hanya bisa mereka bayangkan.
Sekolah Rakyat hadir bagi anak-anak yang hidup di garis paling rapuh. Mereka berasal dari keluarga miskin ekstrem dan miskin, termasuk dalam desil satu dan dua berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.
Untuk sementara, Sekolah Rakyat 32 menempati sebagian bangunan Asrama Haji Natuna di Kecamatan Bunguran Timur. Bangunan itu ditata untuk disesuaikan menjadi ruang kelas, kamar tidur, ruang belajar, hingga ruang makan.
Wakil Bupati Natuna, Jarmin, mengatakan pemerintah memanfaatkan gedung tersebut sebagai lokasi sementara pelaksanaan Sekolah Rakyat.
Penyesuaian Asrama Haji menjadi sekolah telah rampung, dan tahun ajaran baru dimulai sejak 2025. Langkah ini adalah solusi cepat agar anak-anak bisa segera belajar seraya menunggu pembangunan gedung baru.
Semangat dari piring makanan
Perubahan paling terasa bagi anak-anak mungkin datang dari meja makan. Setiap hari, makanan bergizi tersaji teratur. Nasi hangat, lauk berprotein, sayur, buah, dan kalsium berjajar di meja.
Tak ada lagi cerita belajar dengan perut kosong atau menahan lemas hingga jam pulang. Di Sekolah Rakyat, gizi menjadi fondasi utama pembentukan pola pikir dan daya tahan tubuh.
Pemerintah meyakini anak dengan asupan gizi cukup akan lebih mudah menyerap pelajaran. Konsentrasi meningkat, ingatan menguat, dan rasa ingin tahu tumbuh alami.
Perlahan, perubahan terlihat. Anak-anak yang semula pendiam mulai berani bertanya. Mereka yang dulu kesulitan membaca kini mulai menikmati buku di tangannya.
Perhatian tidak berhenti pada makanan. Pola tidur juga dijaga, waktu istirahat diatur, dan aktivitas fisik menjadi bagian keseharian. Tubuh yang sehat membuat semangat belajar tumbuh lebih stabil.
Anak-anak jarang sakit, lebih ceria, dan memiliki energi mengikuti pelajaran dari pagi hingga sore. Di Sekolah Rakyat, kesehatan fisik dan kejernihan pikiran berjalan beriringan.
Semua fasilitas itu diperoleh tanpa biaya. Sekolah Rakyat sepenuhnya gratis. Anak-anak menerima seragam, buku, alat tulis, hingga laptop untuk menunjang pembelajaran.
Bagi sebagian anak, laptop adalah benda pertama yang benar-benar mereka miliki. Bukan sekadar alat belajar, melainkan jendela untuk mengenal dunia di luar pulau tempat mereka tumbuh.
Di ruang kelas, guru hadir bukan hanya sebagai pengajar. Mereka direkrut secara nasional melalui seleksi ketat, dengan kompetensi dan dedikasi yang teruji.
Lebih dari itu, para guru datang dengan kesabaran dan empati. Mereka memahami setiap anak membawa latar belakang hidup yang berbeda, dengan luka dan harapan masing-masing.
Karena menerapkan sistem berasrama, kehidupan anak-anak tertata rapi. Jadwal mengatur bangun pagi, belajar, makan, beribadah, bermain, hingga waktu tidur.
Disiplin dibangun tanpa kekerasan, melalui contoh dan kebiasaan. Dari situ tumbuh rasa kebersamaan. Anak-anak belajar berbagi, saling membantu, dan menghargai perbedaan.
Bagi Natuna, Sekolah Rakyat 32 bukan sekadar lembaga pendidikan. Di wilayah perbatasan, pembangunan manusia menjadi fondasi utama menjaga masa depan daerah.
Anak-anak yang hari ini belajar dengan gizi cukup dan pendidikan layak diharapkan tumbuh menjadi generasi cerdas, sehat, dan mencintai tanah kelahirannya.
Sekolah Rakyat juga bukan proyek sesaat. Ia adalah upaya memutus rantai kemiskinan dengan cara yang manusiawi dan berkelanjutan.
Pendidikan, gizi, kesehatan, dan karakter dibangun bersamaan. Anak-anak yang dulu terancam putus sekolah kini berani bermimpi tentang masa depan.
Ada yang ingin menjadi guru, dokter, atau kembali membangun kampung halamannya sendiri. Semua mimpi itu tumbuh dari hal sederhana.
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Natuna Mardi Handika mengatakan Pemkab Natuna telah mengusulkan kepada Kementerian Sosial (Kemensos) agar warga yang masuk kelompok desil tiga hingga empat juga dapat menjadi siswa atau penerima manfaat Program Sekolah Rakyat (SR) 32 di wilayah perbatasan tersebut.
Langkah ini perlu diambil sebab posisi ekonomi mereka yang berada di ambang batas garis kemiskinan. Kelompok ini rentan jatuh miskin jika terjadi guncangan ekonomi, seperti kenaikan harga pokok atau kehilangan pekerjaan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menata ulang masa depan perbatasan melalui Sekolah Rakyat 32
Oleh Muhamad Nurman
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
