Logo Header Antaranews Kepri

Debit Air Waduk Bati Karimun Tinggal Sedikit

Jumat, 18 April 2014 05:14 WIB
Image Print
Kondisi Waduk Bati, sumber air Unit Usaha Air Bersih Perusda, Kamis (17/4). Debit air yang berkurang mengakibatkan tanah dasar waduk kering dan retak-retak. (antarakepri.com/Rusdianto)

Karimun (Antara Kepri) - Debit air waduk Sei Bati di Kecamatan Tebing yang menjadi sumber air Unit Usaha Air Bersih (UUAB) Perusda Karimun untuk ribuan pelanggan di Pulau Karimun Besar, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, tinggal sedikit.

Berdasarkan pemantauan, Kamis, air Waduk Bati tidak lagi menggenangi seluruh permukaan waduk sehingga tanahnya kering dan retak-retak.

Sementara itu, kondisi air yang tingginya diperkirakan tidak sampai 1,5 meter tampak keruh akibat lumpur yang mengendap di dasar waduk.

Minimnya debit air waduk tersebut mengakibatkan pipa untuk mengalirkan air tergantung atau tidak menyentuh permukaan air. Kondisi tersebut mengakibatkan air tidak bisa tersedot untuk selanjutnya dialirkan kepada pelanggan.

"Tinggi permukaan air bertambah karena curah hujan di daerah ini masih rendah," kata Paulus, seorang warga yang tinggal di sekitar waduk tersebut.

Sementara itu, para pelanggan air bersih UUAB Perusda mengatakan sudah beberapa hari tidak mendapatkan pasokan air bersih dari perusahaan milik daerah itu.

"Kalau soal sering macet, ya sangat sering. Tapi yang paling parah sejak kemarau melanda pada awal tahun ini, kran di kamar mandi tidak keluar air, yang ada hanya angin," kata Yadi, pelanggan UUAB Perusda yang tinggal di Kelurahan Sei Lakam Barat, Kecamatan Karimun.

Ia mengaku terpaksa membeli air yang dipasok lori (truk) air ke permukiman penduduk meskipun harganya jauh lebih mahal.

Harga air yang dijual lori-lori air, menurut dia naik hampir dua kali lipat, jika biasanya Rp5.000 untuk satu bak mandi, kini naik menjadi Rp10.000.

"Itupun susah dapatnya. Pesan hari ini besok baru baru datang lorinya," ucapnya.

Ia mempertanyakan konektivitas Waduk Bati dengan waduk Dang Merdu yang dilakukan Perusda untuk mengantisipasi menyusutnya air Waduk Bati sebagai sumber utama air bersih untuk pelanggan.

"Kami baca di koran sudah ada konektivitas dengan menggunakan dua mesin pompa air agar air Waduk Dang Merdu mengalir ke Waduk Bati. Tapi, nyatanya kami terpaksa membeli air lori karena kran kami tidak keluar," kata dia.

Hal yang sama diungkapkan Mitha, warga Kolong, Tanjung Balai Karimun. Mitha berharap Perusda atau pemerintah daerah menyiapkan langkah-langkah agar pasokan air kepada pelanggan tetap lancar meski saat kemarau.

"Harus ada terobosan, salah satunya dengan memanfaatkan waduk-waduk bekas galian tambang timah yang lain sehingga persediaan air cukup meski musim kemarau," kata dia.

Mitha mengatakan, peningkatan kualitas pelayanan air bersih hendaknya diprioritaskan karena menyangkut hajat hidup masyarakat.

"Tanpa air, bagaimana kami bisa mencuci pakaian atau mandi, pengusaha saja mengeluh karena air untuk kebutuhan usahanya tidak ada," katanya.

Pemerintah Kabupaten Karimun telah memasang dua mesin pompa air untuk mengalirkan air dari Waduk Dang Merdu menuju Waduk Bati menyusul keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan air akibat kemarau sejak Januari 2014.

Kepala Bagian Humas Setkab Karimun Muhammad Yosli, dalam satu kesempatan mengatakan, pemasangan dua mesin pompa air itu merupakan program jangka pendek, sedangkan program jangka panjang adalah konektivitas permanen antara waduk belakang Markas Kodim dengan Waduk Bati. (Antara)

Editor: Adi Lazuardi



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026