
Sulteng Pelajari Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Barelang

Batam (Antara Kepri) - Tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah yang dipimpin Kepala Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Agus Sudaryanto mengunjungi Pelabuhan Perikanan Barelang, Batam, Rabu, untuk melihat dari dekat fasilitas pelabuhan dan sistem pengelolaannya.
"Kami ingin tahu fasilitas apa saja yang dimiliki pelabuhan ini dan sistem pengelolaan yang sepenuhnya dibangun dan dioperasikan pihak swasta itu," kata Agus Sudaryanto usai diterima Kepala Unit Pelabuhan Perikanan PP Barelang Yasanto Lase di Gedung PP Barelang, Batam.
Pihaknya juga ingin mengetahui jenis-jenis layanan apa saja yang diberikan kepada kapal-kapal nelayan yang mungkin bisa diterapkan di pelabuhan-pelabuhan perikanan di Sulteng.
Agus mengaku sangat tertarik dengan pengelolaan pelabuhan yang berdiri di atas lahan seluas 30 hektare itu karena fasilitasnnya sudah sangat lengkap dan modern dalam melayani 200 kapal penangkap ikan bertonase 100--200 gross ton itu.
"Daerah kami juga sangat terbuka kepada swasta yang berminat membangun dan mengelola pelabuhan perikanan seperti PP Barelang," ujar Agus yang didampingi Kasubbag Perencanaan Dinas KP Sulteng Saldiansyah Mansyur.
Ia menyebutkan wilayah-wilayah seperti Kabupaten Tolitoli dan Buol di Laut Sulawesi serta Teluk Tolo di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara yang sampai saat ini belum memiliki pelabuhan perikanan yang memadai, padahal potensi penangkapannya masih cukup besar.
Kepala Unit Pelabuhan Perikanan PP Barelang Yasanto Lase mengemukakan bahwa PP Barelang dibangun dengan dana swasta murni dari pengusaha Batam Jefri Sudianto mulai 2008. Namun, dia mengaku tidak tahu besar investasi yang sudah ditanamkan.
Yang jelas, kata Lase, PP Barelang yang diresmikan Menteri KP Fadel Muhammad pada tahun 2012 itu kini memiliki dermaga 150 x 18 meter, pabrik es balok berkapasitas 100 ton/hari, cold storage berkapasitas 2.500 ton, pelayanan air bersih dan bahan bakar minyak dengan harga nonsubsidi.
Jumlah kapal yang dilayani sebanyak 200 buah bertonase 100--200 gross ton, semuanya milik investor. Setiap pekan, PP Barelang dikunjungi sekitar 40 kapal dan membongkar hasil tangkapan rata-rata 30 ton tiap kapal.
"Semua produksi ikan ini kami olah menjadi ikan beku dan menjualnya ke berbagai kota di Provinsi Riau Kepulauan dan beberapa kabupaten di provinsi tetangga Kepri," ujarnya.
Di dalam kawasan PP Barelang seluas 30 hektare ini, investor juga telah membangun sebuah restoran cukup besar, hotel berbintang berkapasitas 60 kamar, mess bagi karyawan perusahaan dan nelayan, kantin dan mengembangkan sekolah pelayaran yang melayani pelatihan basic sercive training (BST) yang hingga saat ini sudah meluluskan 3.000 peserta pelatihan tiga bulanan.
Menurut Lase, pengelola PP Barelang juga sedng membangun sebuah pabrik pengalengan ikan yang akan beroperasi mulai Juni 2014 yang seluruh produknya akan diekspor, terutama ke Singapura, Malaysia dan Thailand.
Lase enggan menyebutkan bahwa kapasitas pabrik tersebut karena mengaku tidak berwenang. Namun, dia menyebutkan bahwa pabrik ini akan mengoperasikan empat unit mesin yang semuanya saat ini sedang dirakit di pabrik tersebut.
"Kami juga sedang merencanakan pembangunan sebuah masjid di lokasi dekat kawasan PP Barelang yang akan menjadi masjid terbesar di Asia serta sebuah pusat perbelanjaan baru (mal) yang cukup besar," ujarnya.
Ketika ditanya apa kontribusi PP Barelang terhadap nelayan lokal yang mengoperasikan kapal-kapal kecil, Lase mengemukakan bahwa kapal-kapal kecil dirangkul oleh perusahaan untuk menjadi pemasok ikan bagi kapal-kapal milik perusahaan yang rata-rata bertonase besar.
Adapun kontribusi pelabuhan ke pendapatan negara berupa pungutan hasil perikanan (PHP), kata dia, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sementara kepada kas daerah Kota Batam belum ada dengan alasan sejak PP Barelang dibangun sampai saat ini, Pemkot Batam belum memberikan sarana dan fasilitas apapun sehingga pengelola pelabuhan pantas memberikan kontribusi ke kas pemkot setempat.
"Namun, Pemkot Batam sangat mendukung kami secara moril dan doa," kata Yasanto Lase. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
