Logo Header Antaranews Kepri

Legislator Sayangkan Pertemuan Yudhoyono-Abbott di Batam

Rabu, 4 Juni 2014 18:25 WIB
Image Print

Batam (Antara Kepri) - Wakil Ketua Komisi I DPRD Batam, Kepulauan Riau, Ruslan Kasbulatov menyayangkan rencana kotanya pada Rabu sore dijadikan tempat pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Australia Tony Abbott.

"Kami menyayangkan pertemuan itu. Apalagi mengambil tempat di Batam. Mungkin kota ini dianggap aman sehingga dipilih," kata Ruslan di Batam, Rabu siang.

Ia berpendapat rakyat Indonesia, khususnya warga Batam, masih sakit hati dengan intelijen Australia yang menyadap telepon sejumlah pejabat tinggi Indonesia beberapa waktu lalu.

Ruslan juga menyayangkan sikap Pemerintah Kota Batam yang terkesan berlebihan menanggapi kedatangan Tony Abbott.

"Dimana harga dirinya (pemerintah kota setempat--red), Australia belum minta maaf kepada Indonesia, tapi sampai menyambut sedemikian rupa," kata dia.

Dia juga menyesalkan pernyataan Wali Kota Batam Ahmad Dahlan yang mengatakan bangga Batam dipilih menjadi lokasi pertemuan Presiden Yudhoyono-Abbott.

"Di mana nasionalisme Wali Kota? Saya berharap itu adalah pernyataan pribadi, bukan mengatasnamakan pemerintah kota," kata dia.

Sebelumnya, Wali Kota Ahmad Dahlan menyatakan bangga kotanya dipilih menjadi lokasi pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam dan Presiden Yudhoyono dengan Perdana Menteri Australia Tony Abbott.

"Kalau dibilang bangga, ya, bangga," kata Wali Kota Batam Ahmad Dahlan.

Mengenai persiapan khusus yang dilakukan pemerintah kota menghadapi kunjungan tiga kepala daerah, ia mengatakan tidak ada yang spesifik.

"Semuanya sudah diurus oleh pihak pengamanan. Tidak ada penyambutan adat," kata Wali Kota.

Sebagai tuan rumah, Wali Kota mengatakan tidak akan mendampingi Presiden Yudhoyono dalam pertemuan resmi kenegaraan itu.

"Urusan luar negeri itu urusan pemerintah pusat. Bukan urusan pemerintah daerah," kata dia. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026