
Abrasi Jadi Ancaman Pulau Perbatasan NKRI

Batam (Antara Kepri) - Pulau-pulau kecil yang berada di perairan Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, yang berhadapan langsung dengan Singapura, bakal hilang karena tergerus abrasi.
"Abrasi yang terjadi di pulau-pulau di kawasan ini terus terjadi, maklum aja tiap hari kapal-kapal tanker berukuran besar lewat, arusnya kuat menghantam pulau," ujar penjaga mercusuar Pulau Takong, Abdul Muis saat ditemui di pulau yang berhadapan langsung dengan Singapura, Selasa.
Pulau Takong berada di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam. Pulau kecil tempat tegaknya menara mercusuar itu bersebelahan dengan Pulau Pelampung dan Pulau Nipa yang merupakan pulau perbatasan NKRI-Singapura.
Pulau kecil berkarang itu dihuni empat keluarga penjaga mercusuar, serta tempat singgah nelayan di sekitar perairan Kelurahan Pemping. Kondisi Pulau Takong sama halnya dengan Pulau Pelampung dan Pulau Nipa saat ini tidak luput dari ancaman abrasi.
Bahkan, dari pantauan Antara rumah penjaga mercusuar hanya tinggal sekitar dua meter dari tebing curam pulau, sedangkan pantai yang dulunya berbatu dan berpasir telah lenyap.
"Awal saya bertugas disini, masih ada pantai yang berbatu dan berpasir putih dibawah sana. Sekarang seperti yang dilihat dari sini dah tak ada lagi. Tebing pulau pun terus roboh," ujar Abdul Muis.
Bahkan, saat berkunjung ke rumah penjaga mercusuar itu, sebatang pohon asam yang berada di belakang rumah tiba-tiba ambruk menimpa dapur rumah Abdul Muis.
"Inilah bukti, pohon yang dulunya tumbuh subur kini pas berada di tepi tebing, tentulah roboh karena akarnya tak lagi menancap di tanah. Bukan tak mungkin rumah tempat kami tinggal ini suatu saat juga bakal roboh," katanya.
Ia mengaku, pihak navigasi tempatnya bertugas telah meminta agar pulau tempat menara mercusuar itu berada direklamasi, namun hingga kini belum juga ada tanda-tanda permintaan tersebut ditanggapi pemerintah.
"Pulau Pelampung juga mengalami abrasi, tapi disana telah dilakukan reklamasi begitu juga Pulau Nipa yang sekarang dihuni pasukan Marinir," katanya.
Sementara itu ditempat terpisah pakar maritim Dr Eddiwan mengatakan, ancaman hilangnya pulau-pulau kecil yang berhadapan langsung dengan negeri jiran itu potensinya sangat besar karena setiap hari kapal-kapal berukuran besar melintas belum lagi kegiatan pengerukan pasir laut di negeri seberang juga mengancam keberadaan pulau-pulau kecil di perairan Indonesia.
"Singapura tidak langsung mencaplok pulau tetapi menggerus tapal batas Indonesia dengan cara mengeruk pasir laut yang bertujuan untuk mereklamasi pulau-pulau mereka. Akibatnya, pulau-pulau kecil di perairan kita terdegradasi dan akhirnya hilang. Begitu cara mereka mencaplok pulau Indonesia," ujar Eddiwan.
Ia mengatakan, seharusnya ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk memberikan perhatian besar terhadap pulau-pulau Indonesia yang berhadapan dengan Singapura karena menyangkut tapal batas negara.
Kondisi sekarang, lanjut dia, tekstur pantai pulau-pulau di perairan Batam yang dulunya berpasir dan berbatu kini telah berubah menjadi batu karang dan cadas, kualitas perairan juga turun dan pencemaran yang terus terjadi.
"Pemerintah pusat harus cepat mengambil kebijakan untuk mereklamasi pulau-pulau di beranda NKRI yang kini terancam hilang dan membuat perjanjian dengan Singapura karena pencemaran di perairan kita terjadi karena ulah buangan industri dari seberang sana," tutur Eddiwan yang juga Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dinas Perikanan dan Kelautan Kepri.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
