Logo Header Antaranews Kepri

Nelayan Karimun Kurangi Melaut Karena Cuaca Ekstrem

Rabu, 4 Februari 2015 11:31 WIB
Image Print

Karimun (Antara Kepri) - Kalangan nelayan tradisional di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, mengurangi aktivitas menangkap ikan karena cuaca di laut sangat ekstrem berupa gelombang tinggi dan angin kencang.

"Nelayan masih ke laut, tapi lamanya dikurangi dan mereka hanya menangkap ikan di sekitar pinggiran pantai atau dekat pulau-pulau," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Karimun, Amirullah di Tanjung Balai Karimun, Rabu.

Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi dan angin kencang, menurut Amirullah, diperkirakan akan berlangsung hingga awal Maret. Angin kencang dan gelombang tinggi dipicu tiupan angin dari arah utara yang kini mulai berganti dari timur.

"Musim utara maupun timur, apalagi pada masa pancaroba seperti sekarang sangat membahayakan nelayan. Angin bertiup lebih kencang yang memicu gelombang tinggi sehingga berisiko bagi nelayan yang tetap nekad menangkap ikan," kata dia.

Amirullah yang pernah mengenyam pendidikan sebagai pelaut menuturkan, sebagian besar dari ribuan nelayan di Karimun adalah nelayan tradisional yang menggunakan kapal berbobot kecil atau kapal 3 GT ke bawah.

Kapal sebesar itu, menurut dia tidak bisa dipaksakan menangkap ikan di perairan jauh dari pantai saat musim angin utara, apalagi di perairan perbatasan, seperti perairan Takong Hiu dan Pulau Asam yang berhadapan dengan Selat Malaka dan perairan Malaysia.

"Perairan Takong Hiu pada masa-masa seperti sekarang bergelombang besar. Kapal besar saja bisa pecah haluannya dihantam ombak, apalagi kapal kecil berbobot 3 GT, bisa tenggelam atau terbalik digulung ombak," katanya.

Sebagian besar nelayan yang menjadi anggota KTNA, menurut dia memilih menangkap ikan di pinggiran pantai atau tidak jauh dari pulau-pulau agar mereka bisa berlindung ke pantai jika ombak berubah ekstrem.

"Kondisi di laut tidak bisa diprediksi, pagi tenang sorenya berubah dilanda badai dan gelombang tinggi. Sebagian besar di Pulau Karimun Besar memilih tidak menangkap ikan di perairan lepas, sebagian ada yang beralih pada pekerjaan lain, seperti menjadi buruh atau lainnya," katanya.

Banyaknya nelayan yang mengurangi aktivitas melaut berdampak pada persediaan ikan di pasaran. Harga ikan melonjak tinggi dan jenisnya berkurang dibandingkan biasanya.

"Lihat saja di pasar, ikan yang dijual kecil-kecil dan harganya mahal, sedangkan besar seperti ikan parang, kurau atau tongkol sangat langka," kata dia.

Faizal, nelayan asal Durai mengatakan dirinya beralih menjadi pekerja borongan proyek semenisasi jalan karena cuaca di laut sedang ekstrem.

"Sejak musim angin utara, saya tidak ke laut melainkan bekerja di kampung. Kalau tidak saya menjadi tukang bangunan sambil menunggu musim angin utara berakhir, biasanya Maret sudah normal lagi," ucapnya. (Antara)

Editor: Sri Muryono



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026