Logo Header Antaranews Kepri

Lima Ibu Hamil Terinfeksi HIV dan AIDS

Jumat, 1 Desember 2017 14:25 WIB
Image Print
Dinas Kesehatan menyarankan kelompok beresiko dapat mengakses layanan yang ada, sehingga bisa mengetahui status HIV penderita apakah positif atau negatif.

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Dinas Kesehatan setempat menemukan lima ibu hamil terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan gejala Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Tanjungpinang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang Rustam Efendi, mengatakan berdasarkan penerapan program skrining ibu hamil di Kota Tanjungpinang, Dinkes dapat mendeteksi ibu hamil terhidap HIV/AIDS selama kurun waktu 5 tahun.

Angka kejadian HIV/AIDS masih cukup tinggi, maka upaya pencegahan penularan harus ditingkatkan. Salah satu yang wajib dicegah adalah penularan HIV/AIDS dari ibu kepada bayinya, katanya.

Dinkes mencatat perkembangan hasil skrining ibu hamil disejumlah Pusat Kesehatan Masyarakat, dan Rumah Sakit di Tanjungpinang, tercatat selama kurun waktu 5 tahun, data ibu hamil 2014 sebanyak 1.978 ibu hamil diskrining ditemukan 10 yang positif HIV, di 2015 diperiksa 2.442 ditemukan 8 orang terdeteksi HIV, 2016 diperiksa 3.236 dan ditemukan positif HIV 11 ibu hamil.

Sedangkan sepanjang 2017, Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang mencatat, sebanyak 2.985 ibu hamil memeriksa kehamilan HIV, 5 diantaranya positif terserang HIV dengan persentase 0,36 persen dari 99,64 persen ibu hamil yang diskrining.

Rustam mengatakan, Dinas Kesehatan telah berupaya beberapa tahun mengembangkan program pencegahan penularan dari ibu ke anak, yang kemudian disebut Program Pencegahan Penularan (PPIA) HIV/ AIDS dari ibu ke anak.

Berdasarkan data yang ada alhamdulillah para ibu hamil yang dideteksi HIV positif setelah mengikuti program terapi yang dilakukan Tim layanan HIV dapat melahirkan bayi/anak yang negatif dari HIV/AIDS, katanya.

Selain para ibu hamil, lanjutnya, Dinas Kesehatan setempat bersama Komisi Penanggulangan AIDS dan stakeholder terkait melakukan pencegahan penularan pada kelompok beresiko lainnya, antara lain kelompok seks sesama jenis maupun kelompok seks lain.

Dinas Kesehatan Tanjungpinang mencatat, jumlah penderita HIV berdasarkan kelompok beresiko terdiri atas Warga Bina Pemasyarakatan (WBP) 3 persen, ibu rumah tangga dan balita 23 persen, wanita pekerja seks 13 persen,lelaki seks lelaki 4 persen, Waria 3 persen dan klien 54 persen.

Dinas Kesehatan setempat menyarankan, pada kelompok beresiko diharapkan dapat mengakses layanan yang ada, sehingga bisa mengetahui status HIV penderita apakah positif atau negatif.

Rustam menghimbau, bagi warga yang masih negatif HIV/AIDS tentunya harus disyukuri dan segera beralih ke arah perilaku seks yang aman.

Upaya ini dilakukan karena berdasarkan data yang ada selama ini penularan HIV sebagian besar terjadi akibat hubungan seks yang beresiko, ujarnya.

Sedangkan bagi yang nantinya diketahui telah positif, lanjutnya, harus segera mengikuti standar terapi yang telah disediakan agar kondisi kesehatannya tetap sehat dan tidak jatuh pada kondisi AIDS.

Bagi yang positif juga harus melakukan seks yang aman, agar menghindarkan orang lain dan pasangannya terhindar dari penularan HIV, katanya.

Rustam mengungkapkan, sebuah paradigma baru dalam pengobatan HIV telah dikembangkan yang berubah 180 derajat dari paradigma sebelumnya.

Pada umumnya selalu dikatakan tidak ada obat untuk orang yang menderita HIV/AIDS. Saat ini HIV/AIDS ada obatnya, walaupun tidak menyembuhkan, tetapi dapat menjamin kesehatan pengidap HIV/AIDS.

Asal melakukan pengobatan seumur hidup. HIV/AIDS dalam paradigma baru sekarang sudah dianggap sama dengan penyakit kronis lainnya seperti hipertensi dan diabetes, ujarnya.

Upaya lain untuk terhindar dari HIV/AIDS yakni, dengan menjaga kesehatan para pengidap HIV, melakukan skrining sedini mungkin tentang kemungkinan adanya infeksi ikutan yang diderita pengidap HIV, antara lain adalah tuberculosis.

Dengan demikian kualitas hidup para pengidap HIV dan penderita AIDS dapat terus ditingkatkan dan kematian dapat dicegah seminimal mungkin, ujarnya.

Upaya lainnya untuk mencegah terinfeksi HIV/AIDS yakni, memberikan perhatian khusus untuk mengembangkan kesadaran akan bahaya dan upaya pencegahan resiko HIV/AIDS di kalangan generasi muda.

Rustam mengatakan, langkah ini ditempuh dengan mempertimbangkan bahwa se bagian besar kasus HIV/AIDS terjadi pada usia produktif 25-49 tahun.

Para pelajar dan mahasiswa perlu diberikan bekal pengetahuan yang cukup tentang upaya mnghindari penularan HIV/AIDS, ujarnya.

Dinas Kesehatan Tanjungpinang mencatat data HIV/AIDS di Kota Tanjungpinang 2016 sebanyak 163 orang terdeteksi penderita HIV, 63 Aids dan 25 meninggal dunia. Sedangkan di 2017 sebanyak 117 orang terdeteksi penderita HIV, 61 orang Aids dan 26 diantaranya meninggal dunia. (Antara)

Editor: Evy R. Syamsir



Pewarta :
Editor: Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026