Habibie minta BP Batam fokus industri berteknologi tinggi

id BJ Habibie,industri teknologi tinggi,high tech,kota batam

BJ Habibie saat berkunjung ke Batam. (Antaranews Kepri/Messa Haris)

Ke depannya Batam ini bukan dipimpin seorang wali kota tapi gubernur, tidak ada DPRD di sini dan itu tugas BP Batam untuk mempersiapkan semuanya
Batam (ANTARA) - Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie meminta agar Badan Pengusahaan (BP) Batam memfokuskan industri berteknologi tinggi di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

BJ Habibie di Batam, Selasa, mengatakan saat ini industri berteknologi tinggi harus menjadi andalan di Kota Batam. "Kenapa high tech, karena sekarang sudah ada tourism dan industri ada di 'mind' Batam ini," katanya.

BJ Habibie menambahkan, BP Batam harus dapat mengembangkan dan menjadikan Kota Batam sebagai daerah istimewa, khususnya di sektor ekonomi. Sehingga dapat bersaing dengan negara tetangga, salah satunya Singapura. 

"Ke depannya Batam ini bukan dipimpin seorang wali kota tapi gubernur, tidak ada DPRD di sini dan itu tugas BP Batam untuk mempersiapkan semuanya," paparnya. 

BJ Habibie mengatakan, sebagai kota industri Kota Batam diminta mempertahankan 60 persen lahannya untuk penghijauan dan hanya 40 persen saja digunakan untuk kawasan industri. 

BJ Habibie, mengatakan hal penting lain yang harus dipersiapkan adalah Sumber Daya Manusia yang memiliki daya saing tinggi dalam menghasilkan produk-produk yang bernilai tinggi.
 
“Untuk mencapai itu, dibutuhkan kesadaran untuk mencapai nilai tambah pribadi, yaitu melalui proses pembudayaan dan pendidikan, ujarnya. 

BJ Habibie menceritakan bahwa saat ia berkunjung ke Nongsa Digital Park, dan di sana melihat anak-anak muda yang kreatif dalam membuat animasi.

"Mereka itu lima atau 10 tahun ke depan kemampuannya akan lebih baik dan bisa bersaing dengan (animator) di luar," paparnya.(Antara)

Baca juga: Habibie: Batam seharusnya jadi pusat industri dirgantara

Baca juga: Pollux dan Keluarga Habibie rampungkan proyek Meisterstadt Batam
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar