Logo Header Antaranews Kepri

Rezeki pembaca tahlil makam jelang Ramadhan

Jumat, 3 Mei 2019 16:21 WIB
Image Print
Salah satu pembaca doa sedang membacakan tahlil di kuburan warga (Nurjali)
Ada yang datang langsung kerumah, ada juga yang bertemu di kuburan langsung

Lingga (ANTARA) - Tradisi ziarah kubur di kalangan warga di Kabupaten Lingga menjelang puasa, memberikan tambahan rezeki bagi beberapa pembaca tahlil atau doa yang dimintai tolong oleh warga yang ingin mendoakan arwah keluarga atau sanak saudaranya.

Imam, salah seorang warga Desa Tanjungharapan mengaku banyak dimintai tolong untuk membaca doa di makam, khususnya di pemakaman umum pasir kuning setiap musim ziarah kubur jelang Ramadhan, dirinya selalu dimintai belasan bahkan puluhan kuburan selama tiga hari jelang Ramadhan.

"Ziarah ini sudah berlangsung turun temurun, dan puluhan tahun yang lalu, setiap jelang puasa dan jelang hari raya," kata salah satu Imam Masjid di Kelurahan Dabolama, Pak Iman kepada Antara, Jumat.

Warga yang meminta tolong tersebut, biasanya menitipkan sebagian rezekinya sebagai imbalan kepada pembaca doa, walaupun tidak ada tarif yang ditentukan namun hal itu kadang menjadi keikhlasan bagi setiap pembaca doa.

"Sebenarnya kami tidak menerima bayaran, tapi menolak juga tidak baik, berapapun jumlahnya selalu kami terima dengan ikhlas," jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pembaca doa lainnya, Jalal yang biasa membaca dia di pemakaman umum Bukit Leban Dabolama, menurutnya tradisi ziarah kubur seakan menjadi tradisi wajib bagi masyarakat melayu di Kabupaten Lingga dan Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya, baginya membantu membacakan doa tiap-tiap kuburan atau disebut tahlil tersebut adalah suatu ladang amal baginya.

"Ada yang datang langsung ke rumah, ada juga yang bertemu di kuburan langsung," sebutnya.

Jamal yang sehari-harinya sebagai pedagang ikan ini, mengatakan warga yang datang meminta bantuan kepadanya tidak saja memberikan dalam bentuk uang namun ada juga dalam bentuk sembako dan lainnya. Bahkan dulunya warga yang meminta bantuan, lebih sering memberikan sembako atau beras sebagai imbalan telah membacakan makam keluarga.

"Kalau saya pernah sampai 7 makam sehari, yang orangnya saya sendiri tidak kenal dan hanya kenal waktu di makam, terus saya terima," sebutnya.

Tradisi ziarah ini biasanya dimulai pada pukul 15.30 petang atau setelah shalat ashar, namun ada juga yang melaksanakan ziarah setelah shalat subuh atau pada pagi hari, namun lebih banyak terlihat pada sore hari. (Antara)



Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026