
Penukaran uang asing sepi karena corona

Batam (ANTARA) - Beberapa pengusaha money changer atau penukaran mata uang di kawasan Nagoya, Kota Batam, mengaku toko mereka sepi dari pengunjung dalam 2 bulan terakhir.
”Penjualan sekarang ini sepi, orang lebih banyak datang menjual mata uang asing mereka ke kami. Kami yang beli terus, tak ada yang dijual,” ungkap Sin (60) seorang pemilik money changer saat ditemui Antara, Sabtu dikawasan Nagoya, Batam.
Menurut dia, sejak wabah virus corona (COVID-19) melanda negeri jiran dalam 2 bulan terakhir dan sepekan lalu kasusnya muncul di tanah air, penjualan mata uangnya sepi.
Ia mengatakan, biasanya penjualannya ramai pada Sabtu - Minggu karena banyaknya orang Indonesia yang akan menyeberang ke Malaysia atau Singapura menukar mata uang dari rupiah ke mata uang negeri jiran. Atau turis yang banyak datang menukar mata uang.
”Biasanya Sabtu Minggu banyak yang beli ringgit atau dolar Singgapura tapi kini sepi,” katanya.
Menurut dia, harga beli ringgit Rp3.400 dengan harga jual Rp3.260 dan pembelian dolar Singapura Rp10.350, dan jual Rp10.150.
“Yang banyak datang orang yg menjual, walau yang beli uang sepi tapi tetap kami layan karena saat ini orang banyak menahan diri tidak berpergian takut penyebaran virus dah ada dimana mana,” kata Sin.
Pernyataan serupa juga disampaikan Ranti yang juga kasir Money Changerdi kawasan Nagoya.
”Hari ini sejak tadi pagi sepi, tak ada yang datang beli. Adapun yang beli orang yang memang kerja diluar atau pulang dari sana mereka tukar lagi disini,” katanya.
Pewarta : Nurjali
Editor:
Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
