Demo kasus George Floyd akumulasi kekecewaan terhadap Trump

id Trump,UgM,George floyd,Demo,Rasisme

Demo kasus George Floyd akumulasi kekecewaan terhadap Trump

Orang-orang berlarian saat polisi membubarkan para demonstran selama protes di tengah kerusuhan nasional menyusul kematian George Floyd  di tahanan polisi Minneapolis di Washington, AS, 31 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS / Jim Bourg/aww.

Yogyakarta (ANTARA) - Pengamat Politik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada (UGM) Siti Mutiah Setiawati menilai gelombang demonstrasi terkait kasus kematian George Floyd merupakan akumulasi kekecewaan rakyat Amerika Serikat terhadap kepemimpinan Donald Trump.

"Ada kekecewaan rakyat Amerika sendiri terhadap kepemimpinan Donald Trump. Ini endapan terhadap rasisme, endapan terhadap kepemimpinan," kata Siti Mutiah di Yogyakarta, Minggu.

Terkait persoalan rasisme di Amerika, khususnya antara kulit putih dan kulit hitam, menurut Mutiah, sebetulnya sudah sejak lama berangsur membaik.

Namun, di bawah kepemimpinan Trump, menurut dia, justru gagal meredam isu rasisme atau persoalan kesetaraan lainnya di negeri Paman Sam itu.

"Selama ini presiden AS kepemimpinannya sudah baik dalam menekan rasisme. Nah, di bawah Donald Trump ini dia tidak menentramkan," kata dia.

Terlepas persoalan rasisme, menurut Mutiah, sebetulnya pemerintahan Amerika Serikat saat ini dalam kondisi tertekan, khususnya dalam politik luar negeri.

Ia mengatakan di bawah Trump, politik luar negeri Amerika terhenti. Hubungan dengan Timur Tengah dan Asia ditinggalkan, bahkan dengan Eropa juga memburuk.

"Yang semula Amerika dikagumi di dunia internasional sehingga mendapat posisi sebagai super power, di bawah Donald Trump itu hilang," kata Ketua Prodi Pascasarjana Departemen Hubungan Internasional Fisipol UGM ini.

Tidak hanya itu, menurut dia, berbagai kebijakan yang dibuat oleh presiden yang diusung Partai Republik itu juga kerap kontraproduktif serta melanggar kesepakatan internasional.

Ia mencontohkan, satu di antara kebijakan yang melanggar adalah terkait dengan penanganan COVID-19. Trump dalam hal ini tidak yakin terhadap protokol kesehatan yang telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sehingga enggan mematuhinya.

"Dia ingin melawan, sehingga kejadian COVID-19 di Amerika termasuk yang tertinggi di dunia. Itu kan malah membuat Amerika malu secara internasional," kata dia.

Oleh sebab itu, Mutiah menilai bahwa aksi protes terkait kematian George Floyd juga dijadikan kesempatan oleh sebagian rakyat Amerika untuk meluapkan ketidaksukaan terhadap pemimpinnya.

"Kalau sudah seperti ini, kalau tidak segera diatasi memang bisa terjadi pemakzulan terhadap Donald Trump," kata dia.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar