Permendikbudristek 30/202 cegah kekerasan seksual di kampus
Sabtu, 13 November 2021 13:44 WIB
Ilustrasi- Warga yang tergabung dalam Komunitas Nurani Perempuan Women's Crisis Center (NPWCC) berkampanye mendorong pemerintah dan DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual . ANTARA/Arif Pribadi
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Latasha Safira mengatakan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 merupakan respons yang positif untuk mencegah kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
"Kita perlu mengapresiasi keluarnya regulasi ini sebagai langkah awal penanganan kekerasan seksual di kampus. Ke depannya, regulasi ini diharapkan mampu mencegah terjadinya kasus-kasus serupa," kata Latasha dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Latasha mengatakan peraturan itu sangat dibutuhkan untuk memberikan kepastian lingkungan pendidikan yang aman bagi siapapun, terutama mendukung pencegahan kekerasan seksual dalam lingkungan pendidikan, karena telah mengidentifikasi dan mencakup berbagai macam bentuk kekerasan seksual.
Oleh karenanya, semua pemangku kepentingan di sektor pendidikan perlu terus mengawal dan berkomitmen agar pelaksanaan peraturan itu bisa efektif.
Latasha menuturkan sebelum keluarnya regulasi itu, kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sudah banyak terjadi. Namun, ia mengklaim masih banyak kasus serupa yang tidak diketahui karena tidak dilaporkan.
Menurut dia, perjuangan untuk melindungi dan mengedepankan kepentingan korban perlu diprioritaskan, termasuk di dalam Permendikbudristek itu, agar dapat menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan korban pada institusi yang berwenang menangani laporan mereka, seperti kampus dan kepolisian.
Ia berharap regulasi tersebut juga mampu menciptakan mekanisme pelaporan kekerasan seksual yang mudah dan aman.
"Penelitian telah menunjukkan bahwa kekerasan seksual sangat berdampak pada kesehatan mental siswa, yang pada akhirnya dapat mengganggu, dan bahkan mengakhiri perjalanan pendidikan mereka,” ujarnya.
Latasha mengatakan sosialisasi Permendikbudristek perlu terus dilakukan kepada semua kalangan, terutama kepada mereka yang bekerja dan berinteraksi secara intensif di lingkungan pendidikan.
"Kita perlu mengapresiasi keluarnya regulasi ini sebagai langkah awal penanganan kekerasan seksual di kampus. Ke depannya, regulasi ini diharapkan mampu mencegah terjadinya kasus-kasus serupa," kata Latasha dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Latasha mengatakan peraturan itu sangat dibutuhkan untuk memberikan kepastian lingkungan pendidikan yang aman bagi siapapun, terutama mendukung pencegahan kekerasan seksual dalam lingkungan pendidikan, karena telah mengidentifikasi dan mencakup berbagai macam bentuk kekerasan seksual.
Oleh karenanya, semua pemangku kepentingan di sektor pendidikan perlu terus mengawal dan berkomitmen agar pelaksanaan peraturan itu bisa efektif.
Latasha menuturkan sebelum keluarnya regulasi itu, kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sudah banyak terjadi. Namun, ia mengklaim masih banyak kasus serupa yang tidak diketahui karena tidak dilaporkan.
Menurut dia, perjuangan untuk melindungi dan mengedepankan kepentingan korban perlu diprioritaskan, termasuk di dalam Permendikbudristek itu, agar dapat menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan korban pada institusi yang berwenang menangani laporan mereka, seperti kampus dan kepolisian.
Ia berharap regulasi tersebut juga mampu menciptakan mekanisme pelaporan kekerasan seksual yang mudah dan aman.
"Penelitian telah menunjukkan bahwa kekerasan seksual sangat berdampak pada kesehatan mental siswa, yang pada akhirnya dapat mengganggu, dan bahkan mengakhiri perjalanan pendidikan mereka,” ujarnya.
Latasha mengatakan sosialisasi Permendikbudristek perlu terus dilakukan kepada semua kalangan, terutama kepada mereka yang bekerja dan berinteraksi secara intensif di lingkungan pendidikan.
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Influencer H laporkan dugaan "bullying" dan pelecehan di sekolah terhadap anaknya
21 January 2026 14:30 WIB
Poltekkes Tanjungpinang edukasi kesehatan reproduksi kepada siswa SMPN14 Madong
04 November 2025 15:32 WIB
Mahasiswi terlibat pemasok anak pesanan eks Kapolres Fajar dituntut 12 tahun penjara
22 September 2025 16:56 WIB
Direktorat PPA/PPO kolaborasi lintas negara tangani kejahatan digital terhadap anak
24 July 2025 10:13 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
DKPP Batam ajukan permohonan 1.200 dosis vaksin PMK sapi kurban tahun 2026
02 February 2026 12:36 WIB
Polda Kepri target turunkan angka pelanggaran lalu lintas diawal tahun 2026
02 February 2026 10:34 WIB