IDAI Kepri imbau warga waspada flu Singapura serang balita
Sabtu, 26 Agustus 2023 17:34 WIB
Ketua IDAI Cabang Kepri, dr. Muhammad Rizqa. (Ogen)
Tanjungpinang (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengimbau masyarakat mewaspadai flu Singapura yang belakangan menyerang anak usia di bawah usia lima tahun (Balita).
"Orang tua harus waspada, karena flu Singapura biasanya menyerang anak-anak balita" kata Ketua IDAI Cabang Kepri, dr. Muhammad Rizqa di Tanjungpinang, Sabtu.
Menurut dia, gejala anak terserang penyakit akibat virus itu, pada umumnya timbul ruam di mulut atau tampak seperti sariawan, lalu terdapat bintik seperti cacar pada tangan dan kaki, terutama di lipatan siku dan lutut hingga pangkal paha.
"Flu Singapura memang khas menyerang sekitar mulut, tangan dan kaki," ujarnya.
Ia menyebut, flu Singapura sangat mudah menular melalui interaksi antarmanusia, misalnya saat batuk atau bersin, makan satu wadah, hingga kontak langsung dengan penderita penyakit tersebut. Termasuk penularan dari tempat bermain anak, yang sebelumnya sudah terkena cairan tubuh anak penderita penyakit itu.
Rizqa menyebut belakangan kasus penyakit flu Singapura cukup banyak ditemukan di daerah setempat.
Ia yang juga bertugas sebagai dokter di RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT) Provinsi Kepri itu, mencatat dalam satu bulan terakhir per hari rata-rata ada empat orang anak bahkan lebih datang dengan keluhan penyakit flu Singapura ke rumah sakit tersebut.
Bahkan, ada anak yang harus menjalani rawat inap sampai tiga hari, karena kesulitan menelan saat makan dan minum disertai muntah-muntah. Sementara gejala ringan, sifatnya hanya menimbulkan demam pada anak.
"Biasanya anak itu datang dengan keluhan tidak mau makan, kadang disertai demam. Paling banyak terkena sariawan hingga membuat anak sakit untuk menelan makanan,” ungkapnya.
Dia mengimbau orang tua yang menemui gejala flu Singapura pada anak agar segera membawa anaknya berobat ke puskesmas atau rumah sakit.
“Anak balita rentan terpapar penyakit itu, karena imun tubuhnya masih lemah,” ucapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Muhammad Bisri, meminta masyarakat tidak perlu panik terhadap kasus flu Singapura.
Flu Singapura memiliki gejala seperti demam biasa dan sudah menjadi endemik di negara tetangga, Singapura.
"Kenapa disebut flu Singapura, karena penyakit ini sempat naik tinggi di Singapura sekitar tahun 2000-an," ungkapnya.
Bisri menyebut kasus flu Singapura di Indonesia masih dalam observasi atau pengamatan, namun belum menjadi konsentrasi Kementerian Kesehatan RI.
Kendati begitu, ia mengimbau masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan mencuci tangan.
"Saat ini belum ada kebijakan khusus pemerintah dalam menghadapi flu Singapura, sehingga relatif masih aman," demikian Bisri.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IDAI Kepri imbau warga waspadai flu Singapura serang balita
"Orang tua harus waspada, karena flu Singapura biasanya menyerang anak-anak balita" kata Ketua IDAI Cabang Kepri, dr. Muhammad Rizqa di Tanjungpinang, Sabtu.
Menurut dia, gejala anak terserang penyakit akibat virus itu, pada umumnya timbul ruam di mulut atau tampak seperti sariawan, lalu terdapat bintik seperti cacar pada tangan dan kaki, terutama di lipatan siku dan lutut hingga pangkal paha.
"Flu Singapura memang khas menyerang sekitar mulut, tangan dan kaki," ujarnya.
Ia menyebut, flu Singapura sangat mudah menular melalui interaksi antarmanusia, misalnya saat batuk atau bersin, makan satu wadah, hingga kontak langsung dengan penderita penyakit tersebut. Termasuk penularan dari tempat bermain anak, yang sebelumnya sudah terkena cairan tubuh anak penderita penyakit itu.
Rizqa menyebut belakangan kasus penyakit flu Singapura cukup banyak ditemukan di daerah setempat.
Ia yang juga bertugas sebagai dokter di RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT) Provinsi Kepri itu, mencatat dalam satu bulan terakhir per hari rata-rata ada empat orang anak bahkan lebih datang dengan keluhan penyakit flu Singapura ke rumah sakit tersebut.
Bahkan, ada anak yang harus menjalani rawat inap sampai tiga hari, karena kesulitan menelan saat makan dan minum disertai muntah-muntah. Sementara gejala ringan, sifatnya hanya menimbulkan demam pada anak.
"Biasanya anak itu datang dengan keluhan tidak mau makan, kadang disertai demam. Paling banyak terkena sariawan hingga membuat anak sakit untuk menelan makanan,” ungkapnya.
Dia mengimbau orang tua yang menemui gejala flu Singapura pada anak agar segera membawa anaknya berobat ke puskesmas atau rumah sakit.
“Anak balita rentan terpapar penyakit itu, karena imun tubuhnya masih lemah,” ucapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Muhammad Bisri, meminta masyarakat tidak perlu panik terhadap kasus flu Singapura.
Flu Singapura memiliki gejala seperti demam biasa dan sudah menjadi endemik di negara tetangga, Singapura.
"Kenapa disebut flu Singapura, karena penyakit ini sempat naik tinggi di Singapura sekitar tahun 2000-an," ungkapnya.
Bisri menyebut kasus flu Singapura di Indonesia masih dalam observasi atau pengamatan, namun belum menjadi konsentrasi Kementerian Kesehatan RI.
Kendati begitu, ia mengimbau masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan mencuci tangan.
"Saat ini belum ada kebijakan khusus pemerintah dalam menghadapi flu Singapura, sehingga relatif masih aman," demikian Bisri.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IDAI Kepri imbau warga waspadai flu Singapura serang balita
Pewarta : Ogen
Editor : Yuniati Jannatun Naim
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Komisi VII DPR RI soroti wisman Singapura dan Malaysia belanja sembako di Batam
11 February 2026 9:04 WIB
Disbudpar Batam sebut transportasi AirFish tambah daya tarik wisman Singapura
07 February 2026 11:30 WIB
KPK hadirkan Jamdatun Kejagung R. Narendra Jatna pada sidang Paulus Tannos di Singapura
03 February 2026 15:22 WIB
Polda Kepri mengungkap modus penyelundupan 70 ton daging beku dari Singapura
27 January 2026 16:25 WIB
BPOM jalin kerja sama dengan HSA Singapura perkuat produk kesehatan dan obat
15 January 2026 13:31 WIB