Natuna (ANTARA) - Kepolisian Resor (Polres) Natuna, Kepulauan Riau memanen sebanyak 12.000 bongkol jagung dari hasil budidaya mandiri sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan di wilayah perbatasan Indonesia.
Kapolres Natuna, AKBP Novyan Aries Efendie, di Natuna, Kamis, mengatakan jagung yang dipanen merupakan varietas jagung manis. Panen ini merupakan bagian dari kuartal III tahap pertama. Kegiatan panen dilakukan pada Kamis pagi di Kecamatan Bunguran Timur.
"Jagung hasil panen ini akan terus dipasarkan secara berkelanjutan. Prioritas pendistribusian adalah untuk kebutuhan internal anggota Polres Natuna, masyarakat sekitar, hingga ke pasar-pasar tradisional di Ranai," ucap dia.
Jagung tersebut ditanam di lahan kosong yang berada di lingkungan Markas Komando (Mako) Polres Natuna. Lahan tersebut sebelumnya tidak produktif dan dibiarkan terbengkalai. Namun dengan semangat dan kerja sama seluruh jajaran, lahan tersebut berhasil diubah menjadi kebun produktif yang menghasilkan panen dalam jumlah besar.
Program penanaman jagung ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung ketersediaan pangan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan motivasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak ragu untuk terjun ke sektor pertanian.
"Semoga ini menjadi contoh positif bagi semua pihak, bahwa dari lahan kosong pun bisa tumbuh hasil yang bermanfaat. Kami ingin mengajak masyarakat untuk bangkit bersama melalui sektor pertanian, karena ini adalah salah satu kunci memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat lokal," ujar dia.
Kapolres menegaskan keberhasilan ini membuktikan bahwa Kabupaten Natuna memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada pangan, sekaligus menunjukkan bahwa institusi kepolisian juga dapat berkontribusi secara aktif dalam pembangunan daerah.
Polres Natuna berkomitmen program ini dapat terus berkembang, dan menjadi model inspiratif yang bisa ditiru di wilayah lain, demi mewujudkan kemandirian pangan nasional.
"Kami ingin menunjukkan bahwa Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga bisa hadir sebagai agen perubahan dalam mendukung pembangunan dan ketahanan pangan di daerah, khususnya di wilayah perbatasan seperti Natuna," kata AKBP Novyan.