Tanjungpinang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mendata surplus neraca perdagangan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih terus terjaga selama 17 bulan berturut-turut terhitung sejak Maret 2024.
Kepala BPS Kepri Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan neraca perdagangan Kepri mengalami surplus sebesar 1,210 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga Juli 2025.
"Secara rinci, nilai ekspor sepanjang Januari-Juli 2025 tercatat sebesar 14,320 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai 13,109 miliar dolar AS," kata Margaretha di Tanjungpinang, Senin (1/9).
Ia menjelaskan surplus hingga Juli 2025 itu ditopang oleh surplus komoditas non migas sebesar 519,78 juta dolar AS, dan komoditas migas yang juga mengalami surplus 690,56 juta dolar AS.
Selain itu, kinerja positif sebagian besar komoditas unggulan masih berlanjut sepanjang periode tersebut, antara lain ekspor mesin/peralatan listrik capai 5,842 miliar dolar AS, naik 46,98 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sedangkan ekspor mesin-mesin/pesawat mekanik naik 97,57 persen menjadi 1,562 miliar dolar AS.
"Namun demikian, tidak semua komoditas unggulan mencatat kinerja positif, yang mana ekspor benda-benda dari besi dan baja turun 60,48 persen menjadi 604,86 juta dolar AS," ungkapnya.
Margaretha menjelaskan tiga besar negara tujuan ekspor Kepri adalah Singapura, Amerika Serikat, dan Malaysia. Pangsa ketiga negara ini sebesar 56,95 persen dari total ekspor Kepri pada Januari-Juli 2025.
Singapura tetap menjadi pasar ekspor utama Kepri dengan nilai mencapai 3,984 miliar dolar AS (27,82 persen), disusul Amerika Serikat sebesar 3,356 miliar dolar AS (23,45 persen) dan Malaysia sebesar 813,53 juta dolar AS (5,68 persen).
Lanjutnya memaparkan ekspor ke Singapura didominasi oleh bahan bakar mineral, mesin/peralatan listrik, dan mesin-mesin/pesawat mekanik.
Sedangkan dari sisi impor, nilai impor Kepri pada Januari-Juli 2025 tercatat sebesar 13,109 miliar dolar AS, atau meningkat 37,89 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyumbang utama impor masih berasal dari sektor non migas (86,42 persen), dengan nilai impor 11,330 juta dolar AS, atau naik 34,86 persen. Peningkatan juga terjadi pada impor sektor migas sebesar 60,86 persen menjadi 1,779 miliar dolar AS.
Dilihat dari tiga jenis, barang memiliki kontribusi utama dalam impor Kepri (63,85 persen). Peningkatan impor terjadi pada jenis barang mesin/peralatan listrik sebesar 33,65 persen menjadi 4,687 miliar dolar AS dan jenis barang mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar 32,98 persen menjadi 1,810 miliar dolar AS.
Sementara itu, jenis barang benda-benda dari besi dan baja mengalami penurunan impor sebesar 3,12 persen menjadi 736,42 juta dolar AS.
Sepanjang periode Januari-Juli 2025, lanjut Margaretha, Tiongkok menjadi negara utama asal impor Kepri dengan nilai sebesar 4,751 miliar dolar AS (36,25 persen), diikuti Singapura sebesar 1,369 miliar dolar AS (10,45 persen), dan Malaysia sebesar 1,037 miliar dolar AS (7,91 persen).
"Impor dari ketiga negara ini mendominasi 54,61 persen terhadap total impor Kepri," paparnya.