
Bapanas dan DKP2KH Kepri tekan harga daging sapi segar melalui Gerakan Pangan Murah

Tanjungpinang (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKP2KH) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menekan kenaikan harga daging sapi segar melalui gerakan pangan murah (GPM).
Kegiatan GPM tersebut digelar di Kios Daging Kastha Pasar Bintan Center, Kota Tanjungpinang, selama dua hari berturut-turut, 12 sampai 13 Maret 2026, dengan menyiapkan 1.525 kilogram daging sapi segar.
"GPM ini khusus menjual daging sapi segar, sesuai harga acuan penjualan (HAP) sebesar Rp140 per kilogram," kata Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan, DKP2KH Kepri Riza Pahlevi di Pasar Bintan Center, Kamis.
Menurut dia, kegiatan GPM itu diusulkan DKP2KH Kepri kepada Bapanas karena kondisi harga daging sapi segar, khususnya di wilayah Tanjungpinang, mengalami kenaikan mencapai Rp170 ribu per kilogram (kg) menjelang perayaan Idul Fitri.
"Kenaikan ini dipicu tingginya harga pengiriman sapi hidup dari daerah asal, Lampung ke Kepri," ujar dia.
Riza menjelaskan Bapanas melalui program fasilitas distribusi pangan (FDP) mensubsidi penjualan harga daging sapi segar kepada masyarakat sebesar Rp30 ribu, yakni dari Rp170 ribu per kilogram menjadi Rp140 ribu per kilogram. Setiap warga maksimal hanya diperbolehkan membeli dua kg.
Sementara itu, DKP2KH Kepri bertindak mengawasi agar penyaluran daging sapi segar dari pedagang (of taker) di Pasar Bintan Center, sesuai dengan harga yang telah ditetapkan.
Baca juga: Kemenag Kepri siapkan masjid ramah pemudik di 62 titik jelang arus mudik
"Menjelang hari raya kebutuhan daging sapi di Tanjungpinang tinggi, dan otomatis harga naik. Makanya, kami melakukan terobosan ini agar harga tetap stabil," kata Riza.
Lebih lanjut Riza mengatakan respons masyarakat terhadap GPM daging sapi segar sangat tinggi. Warga rela antre sejak pagi untuk membeli daging sesuai acuan harga Bapanas.
Riza mengakui pada hari-hari besar keagamaan nasional, seperti Idul Fitri, kenaikan harga daging sapi segar tidak bisa dihindari. Persoalan itu berulang terjadi karena Kepri bukan daerah penghasil. Ternak sapi didatangkan dari provinsi lain, misalnya Lampung.
"Harga sapi hidup di daerah asal sesuai HAP, namun tansportasi pegirimannya mahal, sehingga berpengaruh pada kenaikan harga daging sapi segar di pasaran," ujar dia.
Riza mengapresiasi program GPM daging sapi segar yang diinisiasi Bapanas di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
Ia menyebut program serupa ke depan bisa diadopsi pemerintah daerah dan direncanakan lebih awal, sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan harga terjangkau, khususnya jelang Idul Fitri.
Salah seorang ibu rumah tangga Juliana mengapresisasi GPM yang menjual daging sapi segar sebesar Rp140 ribu per kilogram, setelah belakangan harganya merangkak naik dari Rp160 ribu sampai Rp170 ribu per kilogram.
"Saya beli dua kilogram untuk persiapan lebaran. Program GPM ini sangat membantu masyarakat," kata Juliana.
Baca juga:
RDPU DPRD Batam bahas kecelakaan tugboat di PT ASL, perusahaan diminta perkuat standar K3
Pemkab Natuna salurkan bantuan 12,5 ton beras untuk 1.258 keluarga rawan pangan
Pewarta : Ogen
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
