Washington (ANTARA) - Gedung Putih, Rabu (12/11) membantah laporan yang menyebut Amerika Serikat (AS) berencana membangun pangkalan militer sementara di perbatasan Jalur Gaza.

“Laporan itu hanya didasarkan pada selembar dokumen, berupa permintaan informasi dari seseorang di Departemen Angkatan Laut tentang sebuah ide yang mungkin terjadi di masa depan," kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, kepada wartawan.

"Namun, reporter tersebut menafsirkannya sebagai rencana resmi dan memberitakan seolah-olah Amerika Serikat tengah mempertimbangkannya (membangun pangkalan militer). Saya sudah memeriksa langsung ke tingkat tertinggi pemerintah federal Amerika Serikat,” kata Leavitt menambahkan.

“Ini bukan sesuatu yang diminati atau sedang dilakukan oleh Amerika Serikat saat ini,” tegasnya.

Sebelumnya, surat kabar Yedioth Ahronoth, mengutip pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Washington berupaya mendirikan pangkalan militer besar di wilayah perbatasan Gaza. Jika benar, langkah itu akan menandai “eskalasi signifikan dalam aktivitas militer AS di Israel.”

Media tersebut juga menyebut proyek itu akan menjadi “pangkalan militer besar pertama milik Amerika di wilayah Israel, yang menunjukkan semakin dalamnya komitmen AS terhadap upaya stabilisasi pascaperang di Jalur Gaza.”

Leavitt menegaskan bahwa Presiden Donald Trump telah berulang kali menyampaikan penolakannya terhadap pengerahan pasukan AS di Timur Tengah.

“Presiden sangat jelas bahwa ia tidak ingin melihat pasukan darat terlibat dalam situasi di Timur Tengah. Kami telah mencapai kemajuan besar dalam rencana perdamaian di Gaza, dan kami ingin proses itu terus berlanjut,” ujarnya.

Sumber: Anadolu


Baca selanjutnya,
Israel hancurkan 1.500 bangunan di Gaza sejak gencatan senjata...



Lebih dari 1.500 bangunan telah dihancurkan oleh tentara Israel di Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku pada bulan lalu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh citra satelit yang dirilis Rabu.

Citra satelit yang ditinjau oleh BBC Verify menunjukkan bahwa seluruh kawasan permukiman di wilayah yang dikuasai Israel di luar yang disebut “garis kuning” di Gaza telah hancur total sejak 10 Oktober.

Foto-foto yang diambil sebelum kesepakatan gencatan senjata di daerah Abasan Al-Kabira, Khan Younis, Gaza selatan, menunjukkan banyak bangunan yang masih utuh, beberapa di antaranya bahkan memiliki taman, pohon, dan kebun.

Citra satelit yang diambil di Rafah, Jabalia, dan Kota Gaza sebelum dan sesudah kesepakatan gencatan senjata juga menunjukkan peningkatan kerusakan yang terlihat dari reruntuhan dan bangunan yang rata di area tersebut.

“Jumlah bangunan yang hancur sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, karena citra satelit untuk beberapa area tidak tersedia untuk penilaian BBC Verify,” kata saluran tersebut.

Seorang juru bicara tentara Israel mengklaim bahwa pembongkaran bangunan dilakukan sebagai respons terhadap “ancaman” dan bertujuan membongkar infrastruktur Hamas.

Sementara itu, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, Israel telah melakukan 282 pelanggaran gencatan senjata, termasuk 12 serangan ke lingkungan pemukiman, 124 serangan, dan 52 operasi pengeboman yang menargetkan bangunan sipil.

Akibat serangan Israel tersebut, sebanyak 242 warga Palestina tewas dan lebih dari 620 lainnya terluka.

Kesepakatan gencatan senjata Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober, berdasarkan rencana 20 poin dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Fase pertama dari kesepakatan gencatan senjata mencakup pembebasan sandera Israel sebagai imbalan bagi tahanan Palestina. Rencana tersebut juga mencakup pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa melibatkan Hamas.

Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah menewaskan lebih dari 69.000 warga Palestina yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, melukai lebih dari 170.000 orang lainnya, dan membuat Jalur Gaza tidak layak huni, menurut Kementerian Kesehatan.

Sumber: Anadolu

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gedung Putih bantah rencana bangun pangkalan militer AS di batas Gaza

Pewarta : Nabil Ihsan
Editor : Nadilla
Copyright © ANTARA 2026