Batam (ANTARA) - PT Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menyiapkan kuota sekitar 50.000 kiloliter (kl) biosolar bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) sepanjang tahun 2026.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Batam Hanif Pradipta Nur Shalih menjelaskan bahwa biosolar termasuk dalam kategori Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) yang penyalurannya diatur dan dibatasi oleh pemerintah melalui kuota tahunan.
“Untuk Batam di 2026, kuota biosolar kurang lebih 50.000 kl. Penyalurannya disesuaikan dengan ketentuan dan hanya untuk konsumen yang berhak mendapatkan,” ujar Hanif di Batam, Kamis.
Kuota tersebut, katanya, dialokasikan khusus bagi konsumen seperti nelayan, petani, pembudidaya ikan skala kecil, serta layanan umum.
Khusus bagi nelayan, syarat utama yang ditetapkan pemerintah adalah kapal berukuran di bawah 30 gross ton (gt).
Baca juga: BPA Kejagung kembali lelang kapal tanker MT Arman 114 di Batam
“Nelayan yang berhak itu di bawah 30 GT. Pembudidaya ikan skala kecil juga termasuk. Soal administrasi seperti KTP, izin kapal, dan lainnya bisa diurus dan disampaikan melalui dinas terkait, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP),” katanya menjelaskan.
Terkait mekanisme pembelian, Hanif menyebutkan bahwa konsumen wajib mengantongi surat rekomendasi dari instansi terkait seperti seperti DKP, Dinas Pertanian, atau Dinas Perdagangan setempat.
Saat ini, katanya, proses rekomendasi juga telah terintegrasi secara digital melalui aplikasi XStar yang diluncurkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
“Dengan QR Code itu nantinya digunakan saat pembelian di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) atau SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan). Tinggal di-scan dengan EDC (Electronic Data Capture) Pertamina, sehingga kebutuhannya lebih jelas dan tepat sasaran,” kata Hanif.
Ia juga mengatakan di Kota Batam sendiri, penyaluran biosolar untuk sektor kelautan dan perikanan dilayani melalui dua titik, yakni SPBU Kompak dan SPBN.
Baca juga: Wagub Kepri soroti 4 persoalan yang kerap terjadi di daerah perbatasan