Natuna (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, mengalokasikan anggaran untuk kegiatan pasar murah di setiap kecamatan hingga tiga kali dalam setahun untuk menekan harga dan menjaga stabilitas pasokan pangan.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperindagkopum) Kabupaten Natuna Marwan Sjah Putra di Natuna, Kamis, mengatakan dalam kegiatan pasar murah, pemkab menyediakan bahan pangan dengan harga terjangkau, seperti telur, gula pasir, dan tepung terigu.

Ketiga komoditas tersebut dijual dengan selisih sekitar Rp5.000 lebih murah dari harga pasar, karena telah disubsidi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.

Namun, menurut dia, pasar murah hanya dilakukan apabila terjadi kenaikan harga maupun permasalahan di pasokan.

Ia menjelaskan, apabila kondisi stabil, pasar murah tidak akan dilaksanakan dan anggaran akan dikembalikan ke kas daerah.

“Kami menyiapkan tiga kali dalam setahun untuk setiap kecamatan. Natuna ada 17 kecamatan. Namun pelaksanaannya menyesuaikan kondisi tertentu, misalnya saat terjadi kenaikan harga,” ujar dia.

Selain tiga bahan pangan tersebut, Pemkab Natuna juga akan menghadirkan komoditas lain seperti beras, minyak goreng, cabai, bawang, dan sayuran.

Baca juga: Pemkab Natuna cegah potensi konflik lewat Tim Kewaspadaan dini

Namun, penyediaan komoditas tambahan ini tidak menggunakan skema subsidi dari Disperindagkopum Natuna, melainkan melalui mekanisme lain oleh unit kerja di lingkungan Pemkab Natuna maupun instansi terkait.

Untuk beras dan minyak goreng biasanya diupayakan melalui Perum Bulog karena di Natuna pemerintah menugaskan instansi tersebut sebagai penyalur.

Sementara itu, bawang, cabai, dan sayuran akan disediakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna.

“Di Natuna, hanya Pulau Laut dan Seluan yang belum pernah kita laksanakan kegiatan pasar murah,” katanya.

Ia menambahkan, pasar murah perdana di 2026 telah digelar pada pekan kedua Februari. Kegiatan berikutnya dijadwalkan dalam waktu dekat, mengingat sebentar lagi memasuki masa Lebaran Idul Fitri.

“Pasar murah efektif dilaksanakan sebelum, saat, atau setelah hari besar keagamaan nasional seperti Lebaran, karena pada periode tersebut harga bahan pangan cenderung merangkak naik,” katanya.

Baca juga: Tim asesmen putuskan Kepala Puskesmas Moro jalani rehabilitasi 3 bulan