KASAL Tinjau Latma Komodo di Natuna
Rabu, 2 April 2014 22:27 WIB
Natuna (Antara Kepri) - Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL), Laksamana TNI. Marsetio beserta ombongan, tinjau pelaksanaan Latihan Bersama (Latma) Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2014, di desa Sabang Mawang, Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Rabu.
KASAL beserta rombongan tiba di bandara Ranai, Natuna pukul 10.30 setelah terbang dari Halim Perdana Kusuma (Bass Ops) menggunakan pesawat CN 235 P-860 TNI AL, disambut oleh Panglima Armada Bagian Barat (Pangarmabar), Laksmana Muda, TNI, Arief Rudianto dan rombongan, Bupati Natuna, Ilyas Sabli, Unsur FKPD, serta sejumlah SKPD Natuna.
Dalam kunjungan tersebut, Laksamana TNI, Marsetio mengatakan, latihan bersama ini merupakan yang pertama kali diadakan yang di gagas oleh TNI AL, dan diikuti oleh Angkatan Laut (AL) dari 18 negara ASEAN termasuk negara Laos serta negara Rusia, Australia, Cina, dan Jepang.
"Latihan bersama ini baru pertama kali diadakan, namun mendapat dukungan yang positif dari negara-negara peserta, tidak hanya negara ASEAN Saja, tapi juga dari negara peserta lainnya, misalnya negara Rusia, Amerika, Cina, Australia dan Jepang, termasuk negara Laos," ungkap KASAL.
Kemudian, kata Marsetio, latihan ini akan dilaksanakan setiap dua tahun sekali, sesuai dengan kesepakatan hasil pertermuan Kepala Staf Angkatan Laut negara peserta sebelumnya, yang intinya, latihan ini difokuskan terhadap kegiatan latihan penaggulangan bencana.
"Latihan ini boleh diikuti oleh negara dunia lainnya, bukan negara ASEAN saja, darimana saja boleh. Sebab, latihan ini lebih dititik beratkan terhadap penanggulangan bencana. Kita tahu, tidak ada satupun negara di dunia yang bisa mengatasi bencana secara sendiri," katanya.
Ia mencontohkan, bencana Tsunami yang terjadi di Aceh, Banglades, bencana alam di Filifina, Jepang, serta bencana alam di Cina, serta yang terbaru ini, hilangnya pesawat milik negara Malaysia MH 370 .
"Semua bencana, baik bencana alam, gempa bumi maupun bencana lainnya, tak bisa ditanggulangi oleh satu negara saja. Maka dari itu, dengan adanya latihan bersama ini, bila terjadi hal yang tidak kita duga, kita sudah siap untuk berkerjasama dan saling membantu," jelasnya.
Di Natuna, latihan yang di lakukan adalah simulasi penaggulangan bencana gempa dan tsunami di desa Sabang Mawang. Selain itu, juga dilakukan bakhti sosial dengan pengobatan secara gratis bagi warga di Pulau Laut, Bunguran Barat, Bunguran Besar atau Ranai, termasuki juga di Pulau Tiga.
"Selain mengadakan simulasi penaggulangan bencana, dalam latihan ini juga mengadakan bakti sosial melalui pengobatan masal secara gratis, misal pengobatan mata, Katarak, operasi bibir sumbing, suntan, bedah minor serta melayani apotok gratis," pungkasnya. (Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
KASAL beserta rombongan tiba di bandara Ranai, Natuna pukul 10.30 setelah terbang dari Halim Perdana Kusuma (Bass Ops) menggunakan pesawat CN 235 P-860 TNI AL, disambut oleh Panglima Armada Bagian Barat (Pangarmabar), Laksmana Muda, TNI, Arief Rudianto dan rombongan, Bupati Natuna, Ilyas Sabli, Unsur FKPD, serta sejumlah SKPD Natuna.
Dalam kunjungan tersebut, Laksamana TNI, Marsetio mengatakan, latihan bersama ini merupakan yang pertama kali diadakan yang di gagas oleh TNI AL, dan diikuti oleh Angkatan Laut (AL) dari 18 negara ASEAN termasuk negara Laos serta negara Rusia, Australia, Cina, dan Jepang.
"Latihan bersama ini baru pertama kali diadakan, namun mendapat dukungan yang positif dari negara-negara peserta, tidak hanya negara ASEAN Saja, tapi juga dari negara peserta lainnya, misalnya negara Rusia, Amerika, Cina, Australia dan Jepang, termasuk negara Laos," ungkap KASAL.
Kemudian, kata Marsetio, latihan ini akan dilaksanakan setiap dua tahun sekali, sesuai dengan kesepakatan hasil pertermuan Kepala Staf Angkatan Laut negara peserta sebelumnya, yang intinya, latihan ini difokuskan terhadap kegiatan latihan penaggulangan bencana.
"Latihan ini boleh diikuti oleh negara dunia lainnya, bukan negara ASEAN saja, darimana saja boleh. Sebab, latihan ini lebih dititik beratkan terhadap penanggulangan bencana. Kita tahu, tidak ada satupun negara di dunia yang bisa mengatasi bencana secara sendiri," katanya.
Ia mencontohkan, bencana Tsunami yang terjadi di Aceh, Banglades, bencana alam di Filifina, Jepang, serta bencana alam di Cina, serta yang terbaru ini, hilangnya pesawat milik negara Malaysia MH 370 .
"Semua bencana, baik bencana alam, gempa bumi maupun bencana lainnya, tak bisa ditanggulangi oleh satu negara saja. Maka dari itu, dengan adanya latihan bersama ini, bila terjadi hal yang tidak kita duga, kita sudah siap untuk berkerjasama dan saling membantu," jelasnya.
Di Natuna, latihan yang di lakukan adalah simulasi penaggulangan bencana gempa dan tsunami di desa Sabang Mawang. Selain itu, juga dilakukan bakhti sosial dengan pengobatan secara gratis bagi warga di Pulau Laut, Bunguran Barat, Bunguran Besar atau Ranai, termasuki juga di Pulau Tiga.
"Selain mengadakan simulasi penaggulangan bencana, dalam latihan ini juga mengadakan bakti sosial melalui pengobatan masal secara gratis, misal pengobatan mata, Katarak, operasi bibir sumbing, suntan, bedah minor serta melayani apotok gratis," pungkasnya. (Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wamen UMKM tinjau potensi pengembangan kawasan belanja pedestrian di Batam
09 January 2026 14:05 WIB
Kim Jong Un tinjau proyek pembangunan kapal selam tenaga nuklir Korea Utara
25 December 2025 15:01 WIB
Prabowo berencana tinjau daerah terdampak bencana di Sumatera seminggu sekali
15 December 2025 17:21 WIB
Pastikan keamanan program MBG di Tanjungpinang, Wagub Kepri tinjau dapur SPPG Batu IX
15 October 2025 10:28 WIB
Terpopuler - Hukum
Lihat Juga
KPK tegaskan penetapan Yaqut Cholil sebagai tersangka kasus kuota haji sesuai prosedur
11 February 2026 15:46 WIB