Karimun (Antara Kepri) -  Sejumlah nelayan di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, libur menangkap ikan karena cuaca ekstrim di laut.

"Saya sudah empat hari tak ke laut. Cuaca kurang bersahabat, angin kencang dan gelombang cukup tinggi," kata seorang nelayan tradisional, Udin di Tanjung Balai Karimun, Selasa.

Udin mengaku menangkap ikan menggunakan pompong di sekitar perairan Tebing, tidak jauh dari Pulau Takong Hiu yang merupakan pulau terdepan dan berhadapan dengan Selat Malaka.

Perairan tempat dia biasa menangkap ikan sedang dilanda musim angin utara yang bertiup kencang sehingga memicu gelombang tinggi.

"Cuaca selama musim utara juga tak menentu, kadang panas di pagi hari, sorenya berubah menjadi badai," kata dia.

Dia mengaku terpaksa berdiam diri di rumah menunggu berakhirnya musim angin utara. Pompong yang biasa digunakannya menangkap ikan ditambatkan di dermaga kecil di Pelambung, Kecamatan Tebing.

"Untung istri jualan kecil-kecilan di rumah, jadi bisa menutupi biaya hidup selama saya tidak ke laut," katanya lagi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Karimun Hazmi Yuliansyah mengatakan, pihaknya telah menyampaikan imbauan sekaligus peringatan kepada kalangan nelayan agar berhati-hati selama musim angin utara.

"Musim angin utara merupakan musim yang selalu ditakuti nelayan. Musim ini diperkirakan akan berlangsung sampai berakhirnya perayaan Imlek. Nelayan kami ingatkan mewaspadai perubahan cuaca secara mendadak," kata Hazmi.

Hazmi menambahkan, nelayan tradisional menggunakan pompong dan sampan, kebanyakan libur melaut karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

"Kapal besar saja bisa tenggelam, apalagi hanya pakai pompong dan sampan.  Perairan Takong Hiu atau perairan lepas dengan kondisi cuaca saat ini sangat berbahaya bagi nelayan tradisional," katanya.

Sementara itu, staf Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikasi Stasiun Tanjung Balai Karimun Pande Parwata, Senin mengatakan, cuaca ekstrim diperkirakan akan berlangsung hingga empat hari ke depan.

"Terutama pada sore sampai malam hari. Angin di laut sangat kencang dengan tinggi gelombang minimal 1,5 meter, disertai petir dan hujan badai," kata dia.

Ia mengingatkan kepada nelayan dan operator pelayaran agar lebih hati-hati saat berlayar, terutama sore hari.

Dia menjelaskan, cuaca ekstrim seperti beberapa hari belakangan biasa terjadi pada daerah pusat tekanan rendah di sepanjang equator. Kondisi demikian menyebabkan massa udara yang lembab dari daratan Asia mengalir ke daerah tersebut.

Tiupan angin berkisar 5 sampai 45 kilometer per jam, berasal dari utara dan timur laut. Sedangkan suhu udara berkisar 24-32 derajat celsius dengan kelembaban udara 67-97 persen.    

"Jangan paksakan berlayar atau menangkap ikan dengan kondisi cuaca seperti itu, apalagi di perairan Natuna, Anambas, Lingga dan Bintan," ujarnya. (Antara)

Editor: Sri Muryono