Karimun (Antara Kepri) - Ribuan warga di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau kesulitan mendapatkan air bersih setelah wilayah setempat tidak diguyur hujan sejak Januari 2016.
Seorang warga Sei Lakam, Tanjung Balai Karimun, Doni di Karimun, Minggu terpaksa mengurangi jadwal mandi karena persediaan air terbatas, sementara pasokan air dari Unit Usaha Air Bersih (UUAB) Perusda sudah hampir dua bulan tidak mengalir.
"Satu-satunya andalan kami air dari lori-lori (truk tanki). Harganya memang mahal tapi mau tak mau harus beli," kata dia.
Menurut Doni, sebagian besar warga di lingkungannya termasuk kawasan Orari, Kolong, Telaga Mas, Telaga Tujuh hingga Batu Lipai, merupakan permukiman rumah-rumah penduduk tidak memiliki sumur karena kondisi air yang payau.
Pasokan air dari Perusda menjadi andalan utama, namun sejak air dari Perusda terputus, mereka mengandalkan air lori.
"Kalau untuk minum, kami pakai air galon. Tapi untuk mandi, saat-saat kemarau begini sangat susah. Lori air susah datang karena kebanjiran pembeli, mereka lebih memilih hotel atau perusahaan daripada rumah penduduk seperti kami," tuturnya.
Warga Orari, Darmawati mengatakan pasokan air dari Perusda di rumahnya sudah terhenti hampir tiga bulan.
Dia juga mengaku membeli air lori untuk kebutuhan mandi mencuci dan kebutuhan air di dapur.
"Sebetulnya, Karimun tidak kesulitan air jika Perusda segera menambah tambahan pasokan air dari waduk-waduk selain waduk Bati.
Kenyataannya, air dari Perusda hanya mengalir pada musim hujan saja, bisa dua atau tiga bulan. Setelah itu, kami mengandalkan air lori, kata dia.
Harga air yang dijual truk-truk tanki juga melonjak karena permintan konsumen meningkat.
Seorang supir lori air Herman mengatakan pasokan air yang biasa dia jual Rp14.000 hingga Rp15.000 kini menjadi Rp15.000.
"Sebenarnya tidak ada maksud untuk menaikkan harga, tapi permintaan memang meningkat. Sejak dua bulan ini, kami mengantarkan air kepada pembeli sampai larut malam," kata Herman yang mengaku air yang dijual bersumber dari sumur bor milik majikannya.
Secara terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Laskar Melayu Bersatu Karimun Azman Zainal meminta pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah menggesa pembangunan jaringan waduk Pongkar untuk menambah pasokan air waduk Bati.
"Masyarakat bertanya-tanya, mana janjinya mau memperbaiki pelayanan air bersih. Saat ini sedang sulit-sulitnya mendapatkan air karena hujan sudah lama tidak turun," kata dia.
Dia berharap Direktur PDAM Tirta Karimun yang baru dilantik segera bekerja cepat, dan mengambil alih unit usaha air bersih yang selama ini dikelola Perusda.
"Sesuai amanat Perda, PDAM Tirta Karimun merupakan BUMD yang mengelola air bersih. Kami harapkan ada peningkatkan pelayanan, tidak ada lagi air yang macet, bahkan dalam satu tahun hanya beberapa bulan saja mengalir," ucap Azman Zainal. (Antara)
Editor: Santoso
Ribuan Warga di Karimun Kesulitan Air Bersih
Minggu, 10 April 2016 19:23 WIB
Pewarta : Rusdianto
Editor :
Copyright © ANTARA 2026