Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerakan Indonesia Raya Kepulauan Riau (DPD Gerindra Kepri) minta Badan Pengusahaan Batam memperbaiki sikapnya sehingga lebih "bersahabat" dengan pengusaha.

"BP Batam harus 'friendly' dengan pengusaha. Selama ini kebijakan yang dilakukan banyak berseberangan dengan kepentingan pengusaha," kata Sekretaris DPD Gerindra Kepri Onward Siahaan, yang dihubungi Antara, Jumat.

Onward yang juga anggota Komisi II DPRD Kepri menjelaskan kebijakan BP Batam itu menimbulkan kekhawatiran bagi pengusaha. Bahkan sejumlah kebijakan dinilai merugikan sehingga banyak pengusaha merasa keberatan.

"Kami menerima banyak laporan mengenai kinerja BP Batam, yang tidak sesuai ekspektasi pengusaha. Kamar Dagang Industri Batam dan Kepri, salah satu organisasi pengusaha yang melaporkan kepada kami," ucapnya.

ia mengungkapkan kebijakan BP Batam yang dinilai tidak mendukung investasi dan pasar di kota industri itu misalnya, kenaikan tarif Uang Wajib Tahunan Otorita dan pelabuhan.

Selain itu, lanjutnya BP Batam juga melakukan pengetatan proses perizinan sehingga menyulitkan masyarakat Batam. Contohnya, birokrasi izin peralihan hak atas tanah yang berbelit-belit.

"Batam sebagai motor ekonomi Kepri, dan juga motor ekonomi di bagian barat Indonesia mengalami kemerosotan yang tajam. Ini permasalahan yang harus diselesaikan karena pengusaha sudah sangat resah," ujarnya.

Menurut dia, permasalahan perekonomian di Batam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Kepri. Kondisi Batam lebih parah dibanding daerah lain yang hanya dipengaruhi permasalahan ekonomi global dan kebijakan pemerintah pusat yang terlalu menggenjot pembangunan infrastruktur sehingga sektor rill kurang diperhatikan.

"Ya, hampir semua provinsi mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, tetapi Batam diperparah dengan kondisi investasi dan pasar akibat kebijakan BP Batam," katanya.

Sebelumnya, dari Batam dilaporkan, Bank Indonesia mengumumkan pertumbuhan ekonomi di Kepri pada triwulan I-2017 hanya 2,02 persen, turun drastis dibandingkan triwulan IV-2016 yang mencapai 5,24 persen.

"Ini kejadian ke dua paling buruk di Kepri, sebelumnya hal yang sama pernah terjadi pada triwulan I-2009," kata Kepala Kantor BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra.

Menurut dia, melemahnya ekonomi Kepri tahun ini terutama didorong oleh penurunan ekonomi global, sama dengan yang terjadi pada 2009. Perekonomian Kepri sangat bergantung pada ekspor, sehingga pertumbuhannya dipengaruhi oleh ekonomi dunia.

"Besar dampaknya pada Kepri," kata Gusti.

BI juga mencatat pelemahan ekonomi Kepri pada triwulan I-2017 didorong empat sektor utamanya, yaitu pertambangan, industri, konstruksi dan perdagangan.

Keempat sektor itu mengalami pelemahan tahun ini. Bahkan sektor pertambangan dan industri tumbuh negatif. (Antara)

Editor: Rusdianto