Pemilu Singapura, suara partai oposisi naik tapi PAP unggul
Sabtu, 11 Juli 2020 21:53 WIB
Pemberi suara memakai masker pelindung mengantri di tempat pemungutan suara saat pemilihan umum Singapura, di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Singapura, Jumat (10/7/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su/WSJ/cfo (REUTERS/EDGAR SU)
Singapura (ANTARA) - People's Action Party (PAP) yang lama berkuasa di Singapura kembali mendapatkan mayoritas suara pada pemilihan umum, Jumat (10/70, tetapi jumlahnya turun dibandingkan dengan perolehan sebelumnya.
Sebaliknya, kelompok oposisi, Partai Buruh, memperoleh 10 kursi di parlemen, angka terbanyak yang pernah mereka dapatkan selama mengikuti pemilu di Singapura.
PAP berkuasa sejak Singapura merdeka pada 1965. Banyak pihak memperkirakan PAP akan menang pemilu dan memastikan Lee Hsien Loong kembali menjabat sebagai perdana menteri yang kemungkinan untuk terakhir kalinya sebelum ia memutuskan pensiun.
PAP mengamankan 83 kursi dari total 93 kursi di parlemen, sementara Partai Buruh mendapatkan 10 kursi. Tidak hanya itu, perolehan suara PAP turun dari 70 persen pada 2015 jadi 61 persen.
Adanya perubahan kecil pada popularitas PAP dapat berujung pada perubahan besar pada kebijakan Pemerintah Singapura. PM Lee menunjukkan kekecewaannya terhadap hasil pemilu pada jumpa pers Sabtu pagi.
"Kami menerima mandat yang jelas, tetapi persentase perolehan suara tidak setinggi yang saya harapkan," kata Lee.
"Hasil itu mencerminkan rasa sakit dan ketidakpastian yang dialami rakyat Singapura selama krisis ini ... Ini bukan pemilu yang baik," ujar dia.
Singapura merupakan negara yang hukumnya mengatur ketat kebebasan berpendapat dan berkumpul. Pembagian kekuasaan politik di Singapura juga tidak imbang. Namun, hasil pemilu menjadi momentum bagi oposisi menunjukkan kekuatannya.
Jalanan di distrik-distrik yang jadi pusat kekuatan Partai Buruh dipadati oleh pendukungnya yang membunyikan klakson, berseru, dan mengibarkan bendera partai. Beberapa di antara mereka kurang memperhatikan aturan pembatasan sosial seperti jaga jarak.
"Hasil pemilu melampaui perkiraan banyak pihak, bahkan beberapa orang di oposisi," kata Loke Hoe Yeong, penulis buku First Wave, yang memaparkan sejarah oposisi di Singapura.
"Ini juga tampaknya para pemilih menunjukkan sikap tidak setuju terhadap permintaan PAP menggelar pemilihan umum di tengah pandemi," kata Loke.
Isu lapangan kerja
PAP mendapatkan banyak keleluasaan untuk meloloskan undang-undang dan mengubah konstitusi, mengingat partai itu menguasai mayoritas dua pertiga suara. Namun, para petinggi partai menghadapi tekanan untuk mengatasi turunnya perolehan suara.
Partai Rakyat Bergerak pernah mendapatkan suara terendah, yaitu 60 persen, saat isu imigrasi dan lapangan kerja ramai dibahas pada 2011. Saat itu, pemerintah, yang didukung PAP, memperketat aturan perekrutan pegawai asing demi meredam isu tersebut.
Namun, isu tersebut kembali naik saat Singapura mulai perlahan mencabut karantina demi mengatasi resesi ekonomi paling parahnya pada tahun ini.
Lee, putra dari pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, berharap adanya mandat baru dari pemilu tahun ini untuk memandu Singapura agar dapat melewati krisis kesehatan di negara tersebut.
Singapura bukan negara pertama yang menggelar pemilu saat pandemi, karena Korea Selatan dan Serbia telah lebih dulu menggelar pemilu. Namun, kelompok oposisi di Singapura sempat menentang rencana itu karena pemilu diyakini dapat membahayakan bagi pemilih serta menghambat rencana kampanye.
"Mereka pikir mereka telah cukup baik mengendalikan pandemi," kata seorang manajer keamanan konstruksi, Muhammad, 33, saat ditemui di tengah pendukung Partai Buruh. "Mereka tidak cukup baik," sebut dia.
Singapura merupakan salah satu negara dengan tingkat kematian COVID-19 terendah di dunia sehingga sempat mendapat pujian dari banyak kalangan atas upayanya itu. Namun, beberapa laporan penyebaran penyakit di asrama pekerja migran yang padat menodai keberhasilan tersebut.
Klaster penyebaran baru itu pun mendorong pemerintah untuk menutup sekolah dan sektor usaha lebih lama lagi.
Lee, 68, telah menjabat sebagai perdana menteri sejak 2004. Ia menempati pucuk pimpinan di Singapura dengan mudah. PM Lee sempat menyampaikan niatnya untuk mundur pada beberapa tahun ke depan, tetapi pada Sabtu, ia mengatakan akan bertahan untuk memastikan Singapura dapat melewati krisis.
Sementara itu, wakil PM Lee dan calon penerusnya, Heng Swee Keat, mendapatkan 53 persen suara untuk posisinya itu. Beberapa pengamat menyebut perolehan suara itu merupakan ujian pertama yang dihadapi Heng untuk menghimpun dukungan publik.
Sumber: Reuters
Sebaliknya, kelompok oposisi, Partai Buruh, memperoleh 10 kursi di parlemen, angka terbanyak yang pernah mereka dapatkan selama mengikuti pemilu di Singapura.
PAP berkuasa sejak Singapura merdeka pada 1965. Banyak pihak memperkirakan PAP akan menang pemilu dan memastikan Lee Hsien Loong kembali menjabat sebagai perdana menteri yang kemungkinan untuk terakhir kalinya sebelum ia memutuskan pensiun.
PAP mengamankan 83 kursi dari total 93 kursi di parlemen, sementara Partai Buruh mendapatkan 10 kursi. Tidak hanya itu, perolehan suara PAP turun dari 70 persen pada 2015 jadi 61 persen.
Adanya perubahan kecil pada popularitas PAP dapat berujung pada perubahan besar pada kebijakan Pemerintah Singapura. PM Lee menunjukkan kekecewaannya terhadap hasil pemilu pada jumpa pers Sabtu pagi.
"Kami menerima mandat yang jelas, tetapi persentase perolehan suara tidak setinggi yang saya harapkan," kata Lee.
"Hasil itu mencerminkan rasa sakit dan ketidakpastian yang dialami rakyat Singapura selama krisis ini ... Ini bukan pemilu yang baik," ujar dia.
Singapura merupakan negara yang hukumnya mengatur ketat kebebasan berpendapat dan berkumpul. Pembagian kekuasaan politik di Singapura juga tidak imbang. Namun, hasil pemilu menjadi momentum bagi oposisi menunjukkan kekuatannya.
Jalanan di distrik-distrik yang jadi pusat kekuatan Partai Buruh dipadati oleh pendukungnya yang membunyikan klakson, berseru, dan mengibarkan bendera partai. Beberapa di antara mereka kurang memperhatikan aturan pembatasan sosial seperti jaga jarak.
"Hasil pemilu melampaui perkiraan banyak pihak, bahkan beberapa orang di oposisi," kata Loke Hoe Yeong, penulis buku First Wave, yang memaparkan sejarah oposisi di Singapura.
"Ini juga tampaknya para pemilih menunjukkan sikap tidak setuju terhadap permintaan PAP menggelar pemilihan umum di tengah pandemi," kata Loke.
Isu lapangan kerja
PAP mendapatkan banyak keleluasaan untuk meloloskan undang-undang dan mengubah konstitusi, mengingat partai itu menguasai mayoritas dua pertiga suara. Namun, para petinggi partai menghadapi tekanan untuk mengatasi turunnya perolehan suara.
Partai Rakyat Bergerak pernah mendapatkan suara terendah, yaitu 60 persen, saat isu imigrasi dan lapangan kerja ramai dibahas pada 2011. Saat itu, pemerintah, yang didukung PAP, memperketat aturan perekrutan pegawai asing demi meredam isu tersebut.
Namun, isu tersebut kembali naik saat Singapura mulai perlahan mencabut karantina demi mengatasi resesi ekonomi paling parahnya pada tahun ini.
Lee, putra dari pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, berharap adanya mandat baru dari pemilu tahun ini untuk memandu Singapura agar dapat melewati krisis kesehatan di negara tersebut.
Singapura bukan negara pertama yang menggelar pemilu saat pandemi, karena Korea Selatan dan Serbia telah lebih dulu menggelar pemilu. Namun, kelompok oposisi di Singapura sempat menentang rencana itu karena pemilu diyakini dapat membahayakan bagi pemilih serta menghambat rencana kampanye.
"Mereka pikir mereka telah cukup baik mengendalikan pandemi," kata seorang manajer keamanan konstruksi, Muhammad, 33, saat ditemui di tengah pendukung Partai Buruh. "Mereka tidak cukup baik," sebut dia.
Singapura merupakan salah satu negara dengan tingkat kematian COVID-19 terendah di dunia sehingga sempat mendapat pujian dari banyak kalangan atas upayanya itu. Namun, beberapa laporan penyebaran penyakit di asrama pekerja migran yang padat menodai keberhasilan tersebut.
Klaster penyebaran baru itu pun mendorong pemerintah untuk menutup sekolah dan sektor usaha lebih lama lagi.
Lee, 68, telah menjabat sebagai perdana menteri sejak 2004. Ia menempati pucuk pimpinan di Singapura dengan mudah. PM Lee sempat menyampaikan niatnya untuk mundur pada beberapa tahun ke depan, tetapi pada Sabtu, ia mengatakan akan bertahan untuk memastikan Singapura dapat melewati krisis.
Sementara itu, wakil PM Lee dan calon penerusnya, Heng Swee Keat, mendapatkan 53 persen suara untuk posisinya itu. Beberapa pengamat menyebut perolehan suara itu merupakan ujian pertama yang dihadapi Heng untuk menghimpun dukungan publik.
Sumber: Reuters
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pakar sebut pelaku penyiraman air keras harus diadili di peradilan umum pada kasus Andrie Yunus
26 March 2026 14:44 WIB
PBB adopsi resolusi akui hak rakyat Palestina atas pembentukan negara merdeka dan berdaulat
16 December 2025 14:59 WIB
Terpopuler - Jagat
Lihat Juga
Pelatih Real Madrid Arbeloa tegaskan Spanyol tidak rasis setelah insiden Islamofobia
03 April 2026 18:31 WIB
Polres Natuna salurkan bantuan 8.000 liter air bersih ke warga terdampak kemarau
02 April 2026 11:23 WIB
Pentagon konfirmasi insiden F-35 darat darurat setelah misi tempur di atas wilayah Iran.
20 March 2026 9:03 WIB
WHO peringatkan krisis persediaan medis di Gaza akibat pembatasan akses masuk
07 March 2026 15:37 WIB
Buku 'Prinsipil Ekonomi' Ferry Irwandi kemas literasi dasar ekonomi jadi lebih ringan
02 March 2026 13:45 WIB