
Terima Kasih Pak Presiden

Kalaulah Salbiyah (75) adalah tokoh ibu dalam cerita Si Malin Kundang, pastilah Irwansyah, bisa dikutuk menjadi batu, karena sang anak mendurhakai ibunya dengan keji dengan menjebloskannya ke penjara.
Tetapi, Salbiyah bukan ibu seperti dalam cerita tersebut. Ia hanya seorang ibu dengan kesabaran luar biasa, yang ikhlas dipenjara akibat dosa yang dilakoni anak ke limanya, Irwansyah.
Irwansyah kabur membawa utang ratusan juta rupiah, sedangkan Salbiyah harus mempertanggungjawabkan utang Irwansyah dengan dipenjara.
Kesalahan Salbiyah hanya satu, yaitu menandatangani surat utang yang disodorkan Irwansyah. Hasil penggelapan utang itu pun tidak pernah ia nikmati.
Salbiyah divonis empat tahun penjara atas kesalahannya menandatangani surat utang.
Begitulah, cinta ibu sepanjang zaman sedang cinta anak sepanjang penggalan.
Selama dua tahun tujuh bulan Salbiyah mendekam dipenjara, Irwansyah tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya. Begitu pula lima anaknya yang lain.
Hanya anak bungsunya, Budianto, yang menjenguknya dalam sel Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Batam. Itu pun hanya sekali.
Di lapas, Salbiyah tinggal dalam sel bersama 10 perempuan lain. Ia memilih tidur beralaskan kain panjang di pojok ruangan.
Sehari-hari, tidak banyak yang dilakukan opung bertutup kepala lusuh itu. Ia hanya beribadah, berjalan pagi, dan sesekali merajut.
Setiap pagi, usai shalat Subuh, Salbiyah mengitari lapangan lapas dibantu narapidana lain.
Maklum, opung tidak mampu berdiri sendiri. Tulang-tulangnya sudah menua, tidak bisa menahan beban tubuhnya yang relatif berat.
Grasi
Salbiyah menghabiskan satu tahun masa tahanan di Rumah Tahanan Baloi dan satu tahun tujuh bulan di LP Kelas II A Batam. Dengan sabar, Salbiyah menikmati masa tuanya di penjara.
"Di dalam penjara senang, makan senang, tidur senang...." kata Salbiyah.
Ia tidak berani bermimpi bisa bebas dari tahanan. Bahkan, kepada media, ia pernah mengaku takut bila bebas dari penjara, karena tidak tahu harus tinggal di mana, dan bagaimana cara mencari uang untuk makan.
Dari tutur kata yang ke luar dari bibirnya, ia nampak trauma. Setiap dipanggil siapa pun, ia langsung menyahut, "Apa lagi salah saya Pak... Saya minta maaf." Padahal, orang hanya ingin mengetahui kondisinya.
Itu juga yang terjadi Senin (20/7-10), saat Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar hendak menyerahkan surat grasi.
"Apa lagi salah saya Pak,.. Saya minta maaf," ujar Salbiyah memelas. Air nampak menggenangi matanya yang dibalut kulit keriput.
Dengan lembut Menteri pun menjawab, "Nenek tidak salah apa-apa."
"Pak Presiden kita sayang sama Nenek, dan memberikan grasi. Nenek bisa bebas penjara hari ini," kata Menteri sambil memegang punggung Salbiyah.
Menteri mengatakan Presiden amat memikirkan nasib Nenek Salbiyah yang harus dipenjara atas kejahatan yang dilakukannya tanpa sadar.
"Pemberian grasi ini atas belas kasih, kasih sayang Presiden kepada Nenek Salbiyah. Pak Presiden juga menitipkan salam khusus," kata Menteri.
Salbiyah pun mencium surat grasi sambil menitikkan air mata.
"Terima kasih Pak Presiden, terima kasih Pak Menteri, terima kasih Pak Kepala Lapas, terima kasih... Maaf, saya tidak bisa membalas apa-apa," kata Salbiyah.
Salbiyah mungkin dilupakan anaknya, tapi, anak bangsa yang lain ingat dan tidak bisa lupa dengan kisah Salbiyah.
Menteri mengaku tidak bisa lupa dan terus dihantui nasib Nenek Salbiyah.
"Saya sering mimpikan Nenek. Ingin Nenek cepat bebas," kata Menteri.
Hotel
Hari pertama bebas, Menteri mengundang Salbiyah menginap di hotel bintang empat di Batam. Undangan itu tidak bisa ia tampik.
Sementara itu, putera bungsu Salbiyah, Budianto, yang menjemput ibunya di lapas mengatakan ingin agar Salbiyah tidur di tempat yang nyaman setelah bebas dari tahanan LP Kelas II A Batam.
"Malam ini, saya ingin ibu tidur nyenyak dan nyaman. Mungkin kami akan menginap di hotel. Tapi, belum tahu di hotel apa," kata Budi.
Selanjutnya, ia mengatakan masih belum tahu akan membawa ibunya ke mana.
Budi mengatakan tidak punya tempat tinggal di Batam. Ia pun belum memiliki pekerjaan yang tetap.
"Saya tinggal di mana saja. Kadang menumpang menginap di Masjid," kata Budi, satu-satunya anak Salbiyah yang tinggal di Batam.
Budi bertekad akan membawa ibunya ke kampungnya di Medan, sesuai permintaan Salbiyah, meski belum mendapatkan akomodasi ke Sumatera Utara.
"Lihat nanti, saya belum terpikir," kata Budi yang selama ini baru satu kali menjenguk Salbiyah di penjara karena takut.
Budi berjanji akan menjaga ibunya dan tidak akan mengabaikannya. (s018/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
