Logo Header Antaranews Kepri

Wabup Bintan: Umat Islam dan Ahmadiyah Harmonis

Selasa, 8 Februari 2011 20:15 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA News) - Hubungan antara umat Islam dengan warga Ahmadiyah di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau tetap harmonis, tidak terpengaruh konflik terbuka yang terjadi di Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten.

"Selama ini tidak pernah ada konflik antara umat Islam dengan warga Ahmadiyah di Bintan. Kami berharap kondisi itu tetap dipertahankan," kata Wakil Bupati Bintan Khazalik yang dihubungi dari Tanjungpinang, ibu kota Kepulauan Riau (Kepri), Selasa.

Konflik fisik yang terjadi antara umat Islam dengan Ahmadiyah di beberapa daerah, khususnya di Pandeglang, ditanggapi serius oleh Pemerintah Bintan dengan harapan tidak terjadi di kabupaten itu.

Wabup Bintan eserta pimpinan institusi terkait permasalahan Ahmadiyah Senin malam dialog dengan warga Kelurahan Toapaya Selatan, yang merupakan salah satu kawasan berkembangnya Ahmadiyah.

"Bintan aman, karena masyarakat menginginkan hidup yang harmonis," katanya.

Ia mengimbau masyarakat Bintan tetap mematuhi Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung yang melarang penyebarluasan ajaran Ahmadiyah.

"Kami yakin tidak akan ada konflik sepanjang semua pihak mematuhi Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung," katanya.

Sementara itu, Mubalig Ahmadiyah Kepri, Nasrun Aminullah Mochtar mengatakan, hubungan Ahmadiyah dengan umat Islam di Kepri selama ini cukup baik.

"Tidak pernah ada konflik di antara kami, karena kami saling menghargai," ungkap Nasrun.

Ia menyesalkan insiden fisik massa dari organisasi Islam dengan pengikut Jamaah Ahmadiyah seperti yang terjadi di Desa Umbulan, Banten pada Minggu (6/2).

Ahmadiyah menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

"Kami tidak diajarkan untuk menanamkan rasa dendam. Semua penindasan yang dilakukan kepada pengikut Ahmadiyah dibalas dengan doa," ungkapnya.
(ANT-NP/A013/Btm1)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026