
K-SPSI: Komposisi Pekerja FTZ Karimun Belum Berimbang

Karimun (ANTARA News) - Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau menyatakan komposisi pekerja lokal dan nonlokal di FTZ Karimun belum berimbang.
''Banyak perusahaan yang mempekerjakan tenaga lokal sebagai buruh kasar. Sedangkan untuk posisi strategis masih didominasi pekerja nonlokal,'' kata Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI) Karimun Hanis Jasni di Tanjung Balai Karimun, Minggu.
Hanis Jasni mengatakan komposisi pekerja lokal dan nonlokal pada posisi strategis atau bidang keahlian tertentu sekitar satu berbanding enam.
''Idealnya 2:5 atau paling tidak 3:4. Tujuannya untuk menghindari ketimpangan dan kecemburuan di kalangan pekerja. Selain itu, komitmen mempekerjakan warga lokal sesuai dengan tujuan pemberlakuan status perdagangan bebas atau free trade zone (FTZ),'' katanya.
Dia khawatir ketidakseimbangan pekerja lokal dan nonlokal akan menimbulkan ketidakcintaan karyawan terhadap pekerjaannya.
''Pekerja akan berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Hal ini kurang baik bagi dunia kerja, karyawan tidak betah pada pekerjaannya,'' ucapnya.
Dia mengatakan, Badan Pengusahaan FTZ atau Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Karimun seharusnya melibatkan K-SPSI dalam memantau komposisi ketenagakerjaan.
''Sejauh ini kami tidak mengetahui seperti apa pengawasan dari instansi terkait. Kami juga tidak tahu sejauhmana persiapan dinas terkait menyiapkan tenaga kerja lokal untuk diserap perusahaan FTZ,'' ucapnya.
Menurut dia, status FTZ yang di sebagian Pulau Karimun Besar merupakan ''leading sector'' bagi pemerintah daerah dalam membuka lapangan kerja bagi warganya.
''Kami berharap hal ini menjadi perhatian serius dari pihak-pihak terkait, apalagi perusahaan FTZ mulai tahun ini akan membutuhkan banyak karyawan. Jangan sampai mereka membuka lowongan kerja di daerah lain,'' katanya.
(ANT-RD/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
