
Imigran Sri Lanka Diserang Berbagai Penyakit

Tanjungpinang (ANTARA News) - Sejumlah imigran gelap asal Sri Lanka yang masih bertahan di atas kapal MV Alicia di perairan Tanjungpinang, Kepulauan Riau sejak 10 Juli 2011 diserang berbagai penyakit.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Kepulauan Riau I Gede Widiartha Jumat, membenarkan informasi yang menyebutkan imigran gelap tersebut tengah mengidap sejumlah penyakit.
"Dari 87 orang imigran gelap, tujuh orang diantaranya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjungpinang," kata Widiartha yang dihubungi dari Tanjungpinang, Jumat.
Ia mengatakan, imigran yang dirawat di RSUD Tanjungpinang itu di antaranya menjalani perawatan karena mengalami sakit diabetes, dan keluhan lainnya.
"Dua orang diantaranya juga baru usai menjalani operasi penyakit hernia, serta operasi pengambilan serpihan logam dari kepala, tangan, badan dan paha. Sementara dua lagi operasi gigi," katanya.
Seorang imigran wanita, istri dari pimpinan rombongannya Makesu Silvakumaran juga menjalani perawatan di RSUD Tanjungpinang karena akan melahirkan anak keduanya setelah Makailila (7).
Silvakumaran dan Mikailila ikut menemani ibunya yang akan melahirkan itu di ruangan khusus RSUD Tanjungpinang. Sedangkan mereka yang menjalani rawat inap ditempatkan di Ruang Teratai.
Menurut Widiartha, imigran masih ngotot bertahan di kapal dan akan melanjutkan perjalanan menuju Selandia Baru, walaupun sudah dilakukan pendekatan agar mereka mau turun untuk ditampung sementara untuk penanganan lebih baik.
"Ada pimpinan mereka yang masih ngotot bertahan dan akan melanjutkan perjalanan ke Selandia Baru," katanya.
Sementara itu, Kasubdit Kemanusiaan Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri Masni Eriza yang dihubungi dari Tanjungpinang mengatakan, imigran gelap bermasalah yang sakit mendapatkan akses untuk berobat tanpa dihalang-halangi.
"Mereka bisa turun berobat dan seluruh biaya ditanggung oleh Organisasi Internasional untuk Migran/IOM," katanya.
Masni mengatakan, pemerintah Indonesia masih berusaha untuk membujuk imigran gelap tersebut turun dari kapal agar mendapat pelayanan kesehatan atau penanganan lebih baik, karena tidak memungkinkan mereka terus menerus berada di kapal.
"Kami harapkan mereka menyadari sendiri dan mau turun karena hidup di kapal sudah tidak layak dengan segala keterbatasan," ujarnya.
Pemerintah menurut dia juga tidak buru-buru mengambil tindakan jika mereka masih ngotot tinggal diatas kapal yang lambat laun bisa mengganggu.
"Batas kesabaran tentu ada, namun kami tidak ingin buru-buru agar tidak terjadi tindakan paksa," ujarnya.
Sebanyak 87 orang imigran gelap asal Sri Lanka yang terdiri dari 76 orang laki-laki, enam perempuan dan lima orang anak itu berada di perairan depan pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang sejak Minggu (10/7) setelah ditangkap Polair di perairan Galang Baru, Batam pada titik koordinat 00 41 12.7 N 104 08 11.9 E, Sabtu (9/7).
Polair Polda Kepri mengatakan 23 dari 87 imigran Sri Lanka itu berangkat dari Jakarta setelah membeli kapal kargo MV Alicia seharga Rp1,92 miliar melalui Pinky Gozaly.
"Mereka bertolak dari Jakarta pada 13 Juni 2011 menuju Batam dan lego jangkar di perairan Nongsa," kata Direktur Polair Polda Kepri Kombes Yassin Kosasih.
Yassin mengatakan, pimpinan rombongan yang juga kapten kapal Makesu Selvakumaran pada 27 Juni 2011 menjemput 64 orang imigran Sri Lanka lain ke Johor Bahru, Malaysia menggunakan kapal cepat sebelum berangkat menuju Selandia Baru atau Kanada.
(ANT-HM/M027/Btm3)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
