Logo Header Antaranews Kepri

UMK Batam Segera Dibahas Dewan Pengupahan Provinsi

Sabtu, 26 November 2011 22:27 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Sani mengatakan upah minimum kota Batam segera dibahas dewan pengupahan provinsi dan mengharapkan semua pihak bersabar.

"Kemaren (Jumat, 25/11) baru diserahkan Pemkot Batam, besok atau Senin baru dibahas besaran upah minimum kota (UMK) itu oleh dewan pengupahan provinsi," kata Sani di Tanjungpinang, Sabtu.

Sani mengatakan, pascarusuh demo buruh yang menuntut UMK sebesar Rp1,76 juta per bulan di Batam yang berlangsung Rabu hingga Kamis pekan ini diyakini tidak akan mempengaruhi iklim investasi di kota industri itu.

"Saya yakin tidak terpengaruh, saya juga akan mengumpulkan pihak terkait termasuk investor membicarakan itu," katanya.

Gubernur juga meminta kepada media massa baik cetak mau pun elektronik untuk proporsional memberitakan aksi buruh yang berakhir bentrok di Batam.

"Saya berharap media dalam memberitakannya bisa menciptakan situasi yang tenang dan kondusif, jangan sampai semakin bergejolak," harap Sani.

Gubernur juga berharap media massa bisa mengatur bahasa dan gambarnya agar situasi tidak semakin bergejolak.

"Dengan pengaturan bahasa dan gambar itu, bukan berarti untuk menutup-nutupi fakta yang ada, tetapi untuk menjaga agar suasana bisa tambah tenang dan kondusif," harapnya.

Keamanan Kota Batam saat ini sudah kembali pulih, sehingga pada Sabtu tengah hari aparat kepolisian membongkar kawat berduri di halaman gedung kantor wali kota yang dipasang sejak Kamis guna menghalangi massa buruh.

Jalan Engku Putri dan jalan raya di sekitar gedung itu kembali digunakan untuk umum setelah pada Jumat dibuka terbatas terkait pengamanan dalam status siaga I pascakerusuhan yang terjadi Kamis sore ketika massa buruh berunjuk rasa mendesak pemerintah memberlakukan upah minimum kota Rp1,76 juta per bulan mulai 2012.

Bangunan pos penjaga di luar gerbang kantor tersebut pun mulai diperbaiki setelah pada Kamis, dirusak dan dibakar pengunjuk rasa.

Pada Rabu dan Kamis (23-24/11) kawasan gedung wali kota riuh dengan pidato demonstran, suara tembakan dan teriakan hujatan mengiringi "perang batu" antara pengunjuk rasa dengan aparat kepolisian dan Satpol PP Pemkot Batam.

Pada Kamis petang, massa pengunjuk rasa yang sepeda motornya digulingkan aparat dan dengan gas air mata dipaksa meninggalkan tempat, dalam konvoi perjalanan pulang, melempari dan membakar beberapa mobil serta pos polisi di Batam Kota, Sei Beduk, Batuaji, Sagulung dan Nagoya.

Situasi tu membuat beberapa wilayah Batam yang padat industri dan pusat perbelanjaan tercekam gosip akan terjadi kembali kerusuhan sehingga beberapa perusahaan meliburkan karyawan sebab khawatir terjadi huru-hara.

Pada Jumat pertokoan dan perkantoran di sekitar gedung kantor wali kota umumnya tutup dan sebagian hanya membuka setengah pintu, bahkan Restoran Kediri di Jalan Engku Putri yang berjarak sekitar 200 meter dari gedung wali kota menutup pintu kacanya dengan papan lapis.

(pso-029/M019)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026