Logo Header Antaranews Kepri

Perajin Sulit Dapatkan Gonggong Berkualitas Bagus

Senin, 5 Desember 2011 15:02 WIB
Image Print
Salmahani, seorang perajin gonggong di Batam memperlihatkan aneka kerajinan gonggong yang dibuatnya dari gantungan kunci, bunga, bingkai cermis, asbak serta tempat tisu. (kepri.antaranews.com/Evy R. Saymsir/DD)

Batam (ANTARA Kepri) - Perajin gonggong di Batam sulit mendapatkan gonggong berkualitas bagus di perairan Pulau Batam karena siput laut tersebut susah dibersihkan sehingga tidak bagus untuk souvenir.

"Gonggong sebetulnya banyak terdapat di pantai-pantai Pulau Batam, namun untuk dijadikan souvenir kualitasnya kurang bagus sebab susah dibersihkan," ujar Salmahani (48) seorang perajin gonggong di Batam, Senin.

Ia mengatakan, gonggong (hewan yang masuk dalam kategori Moluska gastropoda, memiliki cangkang berwarna putih panjangnya sekitar 7 cm - Red) dari perairan Batam kerak pada kulitnya susah dibersihkan sehingga tidak menarik untuk dijadikan souvenir, beda dengan gonggong dari perairan yang jauh dari Batam, mudah dibersihkan dan diwarnai.

"Mungkin faktor lingkungan, sehingga cangkang kulit gongongnya tidak mau putih," ujar Salmahani.

Ibu seorang anak ini mengakui, telah empat tahun ini menggeluti kreativitas gonggong.

Cangkang kosong siput laut itu yang semula merupakan limbah diubahnya jadi bunga tulip, bingkai cermin, gantungan kunci, bros baju atau aneka souvenir lainnya.

Ia mengaku, untuk mendapatkan gonggong dia mencarinya di pulau-pulau kosong di sekitar perairan Batam seperti di Pulau Pelampung. Laut di perairan tersebut sangat bagus dan menjadi habitat berbagai jenis siput laut diantaranya gonggong.

"Pulau Pelampung sekitar 2 jam pakai 'pancung' (perahu bermesin tempel-Red) dari Pelabuhan Sekupang, Batam. Di pulau itu aneka jenis siput laut ada dan sangat bagus," katanya.

Namun, menurut dia, untuk menuju ke pulau tersebut sangat tergantung pada besar kecilnya ombak laut.

Dia tidak berani ke pulau tersebut saat musim hujan atau ombak besar.

"Risikonya besar pula," ujar Salmahani.

Menurut dia, untuk mendapatkan gonggong kadang tidak hanya dicarinya langsung ke pulau-pulau kosong tetapi juga dengan memanfaatkan limbah restoran atau rumah makan. Gonggong merupakan makanan seafood favorit di Batam.

Ia mengatakan, saat awal ia membuat kreativitas gonggong, limbah cangkang siput tersebut di dapatnya secara gratis dari rumah makan atau restoran tetapi kini dia harus membeli per kilonya Rp5.000.

"Harga cangkang yang telah menjadi limbah itu sama dengan harga gonggong yang masih hidup," katanya.

Ia mengatakan, walaupun di perairan sekitar Pulau Batam sulit untuk mendapatkan cangkang gonggong yang berkualitas, namun ia tidak kehabisan stok karena ada saja temannya dari daerah lain baik di Tanjungpinang maupun Daik Lingga yang mengiriminya cangkang siput laut bernilai ekonomis itu.

(E010/E001)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026