
Kedaulatan Negara di Gerbang Barat Terkoyak

Karimun (ANTARA Kepri)- Sekretaris Fraksi PDIP DPRD Karimun, Jamaluddin, menuturkan pascapemukulan Julianto (23) nelayan asal Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Selasa lalu, oleh Polisi Perairan Diraja Malaysia di "Out Port Limited" membuktikan bahwa kedaulatan negara di "Gerbang Barat" telah terkoyak.
"'Out Port Limited' (OPL) itu masih perairan Indonesia, mengapa pemukulan secara biadab itu oleh oknum Marine Police (Polisi Perairan) Malaysia, bukankah itu pertanda bahwa perairan Karimun yang merupakan gerbang barat Indonesia telah terkoyak," ucapnya di Tanjung Balai Karimun, Jumat.
Jamaluddin menuturkan agar kejadian yang sama tidak terulang, segala cara harus dilakukan pemerintah termasuk memperketat penjagaan wilayah perbatasan.
"Agar nelayan perbatasan yang sedang mencari nafkah, tidak merasa terancam. Ironis memang nasib nelayan perbatasan selain bertarung menerjang ombak, juga harus tetap waspada terhadap prilaku semena-mena oknum aparat Malaysia," tuturnya.
Hal yang sama juga dikatakan Kepala Satuan Kerja Pengawas Sumber Daya Kelautan Perikanan (Satker SDKP) Kabupaten Karimun, Aparuddin, bahwa OPL masih perairan Indonesia.
"Antara perairan Indonesia dengan Malaysia dipisahkan oleh jalur perniagaan tersibuk di dunia yakni Selat Malaka. Entah bagaimana nelayan Indonesia diwilayahnya sendiri bisa dipukuli dengan semena-mena oleh oknum Marine Police Malaysia," ucapnya.
Dia menuturkan berdasarkan pengamatan di sekitar OPL tidak sedikit nelayan Malaysia memasuki wilayah teritorial Indonesia untuk menangkap ikan.
"Mereka dengan leluasa mencuri ikan, miris memang kondisi perbatasan," tuturnya.
Secara terpisah tokoh nelayan Pangkalan Leho, Alwi, membenarkan kondisi tersebut.
"Banyak nelayan Malaysia itu memancing di perairan Indonesia, bahkan baru-baru ini ada nelayan Malaysia datang langsung ke Pangkalan Leho untuk membeli ikan. Bagi kami nelayan perbatasan itu hal yang biasa," ucapnya.
Namun tentang pemukulan Julianto, dia berpendapat pemerintah harus menyikapi dengan tegas, agar nelayan perbatasan bisa merasa aman ketika melaut.
"Negara harus bisa menjamin keamanan bagi para nelayannya di perbatasan yang melaut sekedar untuk mencari makan, pemukulan Juli merupakan pertanda bahwa kedaulatan negara diperbatasan telah terinjak-injak oleh pihak asing, dampak lainnnya timbul perasaan was-was bagi nelayan Karimun untuk melaut," ujarnya.
Dia menuturkan, tindakan semena-mena yang dilakukan oleh aparat Malaysia sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dan tidak terhitung jumlahnya.
"Sebagian besar dari total nelayan Leho yang berjumlah 140 orang, rata-rata sudah pernah merasakan kesewenang-wenangan itu, mereka tak ubahnya berprilaku sebagai perompak bagi nelayan perbatasan, bila tidak menjarah peralatan nelayan mereka menjarah ikan hasil tangkapan," tuturnya.
Edi (27) nelayan, mengatakan hal yang sama, beberapa waktu lalu dirinya pernah merasakan sendiri aksi oknum aparat Malaysia itu.
"Kami di kapal hanya berdua, mereka datang berempat lengkap dengan senjata, mustahil bagi kami untuk melawan. Mereka dengan leluasa mengambil dua handphone milik kami, kompas dan pisau untuk pemotong umpan, setelah itu mereka meninggalkan kami. Kami tidak tahu harus melapor ke mana," katanya.
Sedangkan Nawan (42) nelayan lainnya, menuturkan, bila ada kapal perang Indonesia lego jangkar di OPL, Polisi Perairan Malaysia itu tidak akan kelihatan.
"Tapi bila kapal perang tidak ada, mereka kembali berpatroli dan melakukan tindakan semena-mena kepada kami," tuturnya.
Marwah
Ketua Laskar Melayu Bersatu Kabupaten Karimun, Datuk Panglima Muda, Azman Zainal, berpendapat segala cara harus dilakukan untuk menghentikan tindakan semena-mena oknum Polisi Perairan Malaysia karena menyangkut marwah negara.
"Serta kedaulatan negara, pemukulan Julianto dapat dijadikan bukti bahwa penjaga perbatasan telah lengah dan kecolongan," ucapnya.
Dia juga berpendapat bila negara tidak bisa menjamin keamanan bagi nelayan di perbatasan.
"Beri izin nelayan perbatasan untuk memiliki senjata api, agar mereka bisa menjaga keselamatan dirinya sendiri. Nelayan perbatasan umumnya masyarakat kecil, mereka melaut hanya sekedar mencari makan sudah seharusnya masyarakat kecil itu dibela," ujarnya.
Alwi juga mengatakan hal yang sama, bila negara tidak bisa menjamin keamanan bagi nelayan.
"Bekali kami dengan senjata, saya yakin kondisi kami akan lebih baik," ujarnya.
(KR-HAM/M009)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
