
Operator East Natuna Diusulkan Melalui Perusahaan Patungan

Jakarta (ANTARA Kepri) - Konsorsium kontraktor Blok East Natuna mengusulkan kepada pemerintah agar operator yang akan mengembangkan ladang gas tersebut dilakukan secara bersama-sama melalui perusahaan patungan.
"Itu baru usulan, nanti pemerintah yang putuskan," kata Vice President Public and Government Affair ExxonMobil Oil Indonesia, Erwin Maryoto di Jakarta, Kamis.
Untuk kepemilikan hak partisipasi (participating interest/PI), menurut dia, awalnya sudah diputuskan komposisinya yakni PT Pertamina (Persero) 35 persen, ExxonMobil 35 persen, Total EP Indonesie 15 persen, dan Petronas Carigali 15 persen. Namun, Petronas kemudian menyatakan mundur, sehingga partisipasinya dikembalikan ke pemerintah.
"Nanti, pemerintah yang akan menentukan partisipasi Petronas itu diberikan ke siapa," katanya.
Erwin menambahkan, pihaknya akan banyak berperan dalam pengembangan East Natuna, karena mempunyai teknologi pemisahan CO2 yang tergolong tinggi di blok tersebut.
Gas yang terkandung dalam East Natuna mempunyai kadar CO2 hingga 70 persen. Artinya, kalau mau mendapatkan gas sebesar satu MMSCFD, maka harus produksi empat MMSCFD.
"CO2 yang sebesar 70 persen itu harus direinjeksi ke dalam bumi. Kalau dibuang begitu saja, nanti bisa didemo, karena menimbulkan polusi," katanya.
Ia juga mengatakan, pengembangan East Natuna direncanakan memakai pipa gas dengan pertimbangan konsumennya tidak terlalu jauh.
Gas East Natuna direncanakan ke pasar Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia yang letaknya dekat dengan lokasi proyek.
Sedangkan, kalau lokasi konsumen di atas 1.500 km, maka lebih cocok memakai transportasi kapal gas alam cair (LNG).
"Jadi, kalau pasarnya kurang dari itu, maka pipa gas akan lebih efisien, murah, dan tidak repot," katanya.
Pemerintah secara resmi menunjuk Pertamina sebagai pengelola Blok Natuna D Alpha atau kini bernama East Natuna melalui Surat Menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 tertanggal 2 Juni 2008 tentang Status Gas Natuna D Alpha. Cadangan Natuna sebenarnya mencapai 222 triliun kaki kubik.
Namun, kemungkinan gas yang bisa diproduksikan hanya 46 triliun kaki kubik karena 70 persen kandungannya berupa karbon dioksida (C02).
Kandungan gas CO2 yang tinggi memerlukan teknologi canggih yang akan memisahkan dan menyimpan gas tersebut.
Sedangkan investasi yang dibutuhkan diperkirakan cukup besar yakni 40 miliar dolar AS. (K007/S004)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
