
Radio Indonesia-Singapura Bersaing di Perbatasan

Batam (ANTARA Kepri) - Radio Indonesia, Singapura dan Malaysia saling bersaing mendapatkan pendengar dan iklan di perbatasan.
"Karena jangkauan siaran jauh, maka radio-radio itu saling bersaing di perbatasan," kata pengamat komunikasi perbatasan Desliana Dwita di Batam, Selasa.
Radio-radio di Batam, kata dia, menjaring iklan dari negara jiran dan menyiarkan program-program yang juga berbahasa asing.
Kesempatan saling "mencuri" pendengar dan iklan dimanfaatkan radio di kedua negara dengan menyajikan program-program yang menarik.
Sayangnya, kata dia, karena ingin mendapatkan pendengar dan iklan dari negeri sebrang, banyak radio Batam meninggalkan konten lokal dan lebih banyak menyiarkan program dengan lagu-lagu berbahasa asing.
Padahal, menurut dia, pendengar radio Batam di Singapura dan Malaysia adalah warga negara Indonesia yang bekerja di negeri jiran.
"Seharusnya konten lokal harus dipertahankan untuk menjaga 'proximity' dengan pendengar. Kalau tidak begitu, mereka akan ditinggalkan pendengar lokal," kata mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kepulauan Riau itu.
Sementara radio-radio Singapura lebih sering diputar di Batam dan daerah perbatasan lain di Provinsi Kepulauan Riau karena suaranya yang lebih jernih.
Menurut perempuan yang akrab disapa Dewi itu, teknologi pemancar radio-radio Singapura lebih canggih sehingga suara yang ditangkap di Batam pun jernih.
"Orang kita suka dengan kualitas suaranya yang bagus," kata dia.
Selain itu, orang Batam lebih menyukai mendengar radio-radio Malaysia karena kerap memperdengarkan lagu-lagu Melayu.
"Saya pernah penelitian di pulau di sebrang Punggur, ternyata penduduk sana lebih suka mendengar lagu Malaysia karena sering menyetel lagu Melayu, sedangkan radio Batam jarang jarang memutar lagu Melayu," kata dia.
Mengenai nasionalisme, ia mengatakan tidak akan luntur hanya karena mendengarkan radio asing.
Di Batam, kata dia, sejak dulu, orang lebih suka menonton tivi dan mendengar radio Singapura, dan rasa nasionalisme tidak pernah luntur.
"Orang Batam tetap cinta Indonesia," kata dia.
Sementara itu, anggota KPID Kepri Aminudin mengatakan masih banyak warga Kepri yang lebih sering mendengar radio Singapura ketimbang Batam.
Akibatnya, kata dia, pengetahuan warga tentang Indonesia kurang. Warga lebih menguasai informasi tentang Singapura dan Malaysia.
"Pernah di Karimun, orang-orang mengucapkan Selamat hari Guru. Padahal itu hari guru Malaysia, bukan Indonesia," kata dia.
Ia mengatakan untuk menjaga nasionalisme dan keutuhan NKRI, maka konten lokal di radio perlu ditingkatkan.
"Konten lokal perlu diperbanyak," kata dia.(Y011/B008)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
