Logo Header Antaranews Kepri

WNI Ditembak di Malaysia Diduga Bukan TKI

Jumat, 14 September 2012 14:24 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Provinsi Kepulauan Riau menyatakan empat orang warga Indonesia yang ditembak oleh aparat keamanan Malaysia diduga bukan berstatus sebagai TKI.

"Empat orang warga Indonesia itu diduga bukan TKI. Mereka tidak terdaftar sebagai TKI, namun kami masih mencari informasi tentang mereka," kata Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kepulauan Riau Mangapin Simamora, Jumat.

Ia mengatakan, pihaknya berhati-hati dalam menangani masalah ini karena menyangkut kepentingan dua negara. BNP3TKI untuk sementara menyimpulkan keempat warga Indonesia itu bepergian ke Malaysia untuk jangka waktu yang lama.

"Meski demikian mereka tetap wajib dilindungi negara," katanya.

BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) telah mengirim tim untuk menelusuri masalah itu. Beberapa staf BNP3TKI juga ditugaskan ke Bengkong, Batam, untuk memastikan apakah benar tiga dari empat warga Indonesia yang tewas itu berasal dari Batam.

Selain itu, kata dia, BP3TKI juga masih menunggu data-data terkait empat warga Indonesia yang tewas karena ditembak polisi Malaysia.

"Seorang warga Indonesia dapat dipastikan berasal dari Jawa Timur, tetapi tiga orang lainnya masih diselidiki," ujarnya.

Dari Batam dilaporkan, Kedutaan Besar RI untuk Malaysia meminta keluarga korban mengidentifikasi jenazah diduga tenaga kerja Indonesia yang tewas ditembak polisi Diraja Malaysia, Jumat (8/9).

"Tadi kami ditelepon KBRI Malaysia, diminta menjelaskan ciri-ciri keluarga yang tewas," kata Shanty, istri Osnan, satu dari empat orang yang ditembak itu, di Batam.

Identifikasi itu, kata dia, menirukan ucapan pejabat KBRI, penting agar pihak kedutaan tidak salah menandai jenazah mereka.

Kepada keluarga, kata dia, KBRI tidak menjelaskan kondisi jenazah. Pejabat Kementerian Luar Negeri juga enggan menjelaskan perihal tudingan perampok yang ditujukan kepada korban.

"Suami saya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia sebelum 2003. Suami saya pulang ke Batam setiap dua hingga tiga pekan sekali," ujarnya.

Shanty mengatakan petugas KBRI menanyakan apakah memiliki paspor, agar bisa berangkat ke Malaysia untuk mengidentifikasi langsung. "Saya tidak punya paspor. Saya orang miskin," kata Shanty.

Meski begitu, ia mengatakan ingin mengidentifikasi langsung untuk memastikan kondisi suaminya.

Ia berharap jenazah suaminya dapat segera dipulangkan ke Batam untuk dikebumikan di Tanah Air. "Saya mau secepatnya," kata dia.(KR-NP/E005)

Editor: Dedi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026