Logo Header Antaranews Kepri

Aksi Bangka Hingga Tokyo Selamatkan Lingkungan Hidup

Kamis, 21 Februari 2013 17:01 WIB
Image Print

Nairobi (Antara Kepri) - Nama Taman Sari atau Bangka Botanical Garden (BBG) di kawasan Pantai Pasir Padi, Bangka, Indonesia, menjadi masyhur dan tercatat dalam laporan "Global Environment Outlook 5 (GEO-5) for Local Government: Solving Global Problems Locally" karena menjadi salah satu contoh inovatif kemitraan swasta dan masyarakat.

Taman yang berada di areal 100-an hektare itu dibangun Djohan Ridwan Hasan, pemilik PT Donna Kembara Jaya, sebagai bagian dari rehabilitasi dan penghijauan di areal tandus bekas pertambangan timah dan smetler.

BBG adalah wujud pencapaian semua pemangku kepentingan lewat program tanggung jawab sosial (CSR) dengan dukungan pemerintah daerah.

Contoh lain ialah kota Windhoek, Namibia, tempat kebijakan dan strategi sedang berjalan untuk mengelola pasokan air guna memenuhi kebutuhan penduduk yang meningkat, atau Cape Town, tempat aset keanekaragaman hayati dilindungi oleh perencanaan dan pemetaan.

Nama-nama kota atau daerah tersebut yang mencatat prestasi di bidang lingkungan hidup sejajar dengan Tokyo di Jepang yang mengembangkan program bangunan hijau guna mengurangi emisi karbon jadi seperempat pada tahun 2020 dibandingkan level pada tahun 2000.

Di antara banyak aksi lainnya adalah kota Bonn di Jerman yang mempromosikan pembelian barang dan jasa berkelanjutan. Dengan demikian berlaku sebagai katalisator bagi penghijauan jaring suplai.

Laporan ICLEI dan UNEP ini yang dikeluarkan Juni 2012 mencatat banyak inisiatif-inisiatif dilakukan oleh pejabat atau penguasa lokal di kota-kota dunia, yang dihuni oleh setengah dari penduduk dunia.

Tata kelola lingkungan hidup lokal dan inisiatif terkait perkotaan sangat penting dalam melindungi ekosistem, memperbaiki mitigasi perubahan iklim dan langkah-langkah adaptasi dan menjamin manajemen limbah dan air efektif. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, pemerintahan di tingkat lokal dapat memberi sumbangan secara substansial untuk memenuhi tantangan lingkungan hidup nasional dan global.

Pembuka jalan

Sekretaris Jenderal ICLEI Konrad Otto-Zimmermann dan UN Under Secretary General dan Eksekutif Direktur UNEP Achim Steiner mengatakan aksi-aksi tersebut merupakan pencapaian yang membuka jalan bagi "masa depan yang kita inginkan (the future we want)".

Mereka mengatakan pejabat lokal, termasuk pemerintahan regional dan provinsi, sudah menunjukkan perubahan paradigma dan perubahan radikal dari tadinya sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin dan bahkan menguntungkan bagi semua pemangku kepentingan.

Di sela-sela pertemuannya yang berlangsung pada 18-22 Februari, Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) secara khusus mengeluarkan The UNEP Year Book 2013: Emerging Issues in Our Global Environment.

Edisi ke-10 dari buku ini memfokuskan pada perubahan cepat di Arctic dan meminimalkan risiko dari bahan-bahan kimia. Laporan tentang penangkapan liar badak dan gajah di Afrika, tumbuhnya tantangan perkotaan dan momentum untuk menangani polutan iklim juga menjadi bagian dari laporan isu-isu yang muncul.

Arctic yang mungkin merupakan kawasan terpencil bagi banyak orang di tempat-tempat seperti Afrika dan Amerika Latin menjadi sorotan luas dalam buku ini.

Perubahan lingkungan hidup yang sedang terjadi di sana menunjukkan kenaikan cepat dan dapat berimplikasi pada siapa pun, tidak sebatas pada perubahan iklim termasuk kenaikan air laut.

Berdasarkan hasil observasi, pada 2012 sedang terjadi perubahan yang tak pernah diduga sebelumnya di Artik. Penutup es laut pada musim panas mencapai rekor 3,4 juta kilometer persegi, 18 persen di bawah minimum yang direkam sebelumnya pada 2007 dan 50 persen di bawah rata-rata pada 1980-an dan 1990-an.

"Selama lima tahun terakhir, es di laut Arctic telah meleleh lebih cepat daripada yang diproyeksikan melalui model-model dan khusus pada Juli 2012, 97 persen dari permukaan lapisan es Greenland meleleh," kata Steiner.

Perubahan iklim menjadi unsur penekan utama atas keanekaragaman Artik. Habitat flora dan fauna unik sedang mengalami penurunan. Kehidupan hewan mamalia di wilayah itu khususnya terancam. Sejumlah spesies ikannya sedang diamati.

Karena perubahan iklim mendominasi transformasi lingkungan hidup Artik saat ini, mengatasi emisi efek rumah kaca masih harus dilakukan.

Bahan Kimia Berbahaya

Buku tahunan UNEP ini juga memfokuskan tantangan yang diakibatkan oleh bahan-bahan kimia. Volume bahan-bahan kimia yang diproduksi dan digunakan terus tumbuh di negara-negara maju dan berkembang. Satu studi mencatat ada 95.000 jenis bahan kimia industri.

Untuk membuat keputusan optimal mengenai meminimalkan risiko akibat bahan kimia dan melindungi kesehatan dan lingkungan hidup, pemerintah, industri dan masyarakat perlu akses kepada informasi yang cukup mengenai bahan-bahan kimia itu. Teknologi baru untuk pengujian dan penilaian menyediakan peluang menjanjikan.

Anak-anak, wanita, pekerja dan manula serta orang miskin khususnya rentan atas bahan-bahan kimia berbahaya. Bilamana bahan-bahan kimia sudah berada di lingkungan, sangat sulit untuk mengendalikan atau memindahkannya.

Bahan-bahan itu bisa bergerak melalui udara, air dan tanah dan mungkin bisa memiliki dampak serius terhadap ekosistem dan organisme termasuk tawon, ikan dan hewan amfibi.

Untuk mencapai tujuan yang disepakati secara internasional guna memproduksi dan menggunakan bahan-bahan kimia untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan atas kesehatan manusia dan lingkungan hidup pada 2020, peningkatan usaha-usaha diperlukan untuk memperkuat manajemen produksi dan penggunaan bahan kimia.

Unsur-unsur penting termasuk mengurangi produksi dan penggunaan bahan beracun, memajukan bahan alternatif yang lebih aman, memperbaiki arus informasi dan transparansi, membangun kapasitas bagi manajemen bahan-bahan kimia yang diperbaiki dan mengurangi lalu lintas internasional ilegal dalam bahan-bahan kimia.

"Produk-produk bahan kimia meningkat jadi bagian dari kehidupan modern dan mendukung perekonomian negara-negara tetapi manajemen bahan-bahan itu yang baik menantang pencapaian tujuan-tujuan pengembangan kunci dan pembangunan berkelanjutan bagi semua," kata UN Under Secretary General dan Eksekutif Direktur UNEP Achim Steiner.(*)

Editor: Dedi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026