Logo Header Antaranews Kepri

Pengamat : Mesin kendaraan sulit mati apabila karena faktor elektromagnetik pada rel kereta

Selasa, 5 Mei 2026 10:41 WIB
Image Print
Arsip foto - Petugas mengamati gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Menurut data KAI hingga pukul 08.45 WIB sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 84 korban luka, akibat kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuterline. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/agr. (Luthfia Miranda Putri)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai bahwa secara ilmiah, kemungkinan kendaraan mati akibat pengaruh gelombang elektromagnetik dari rel kereta sangat kecil.

“Dari beberapa pihak menyebutkan gelombang elektromagnetik yang terjadi di rel kereta sebetulnya tidak cukup kuat untuk mematikan mesin ICE, apalagi menonaktifkan BEV,” ujar Bebin ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Hal ini dikemukakan Bebin menyingkapi dua kasus kecelakaan antara kereta api dan mobil dalam sepekan terakhir di Bekasi Timur dan Grobogan, di mana dalam dua kasus tersebut mobil mengalami mati mesin saat berada di atas perlintasan kereta.

Ia mengungkapkan, fenomena kendaraan mati di perlintasan rel masih menimbulkan tanda tanya jika dikaitkan dengan faktor teknis tersebut.

“Jadi apa yang sebetulnya terjadi terasa aneh karena secara ilmiah tidak terbukti,” katanya.

Menurut Bebin, penyebab kejadian tersebut belum dapat disimpulkan secara pasti tanpa bukti yang jelas.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mesin kendaraan sulit mati karena faktor elektromagnetik di rel kereta



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026