Logo Header Antaranews Kepri

DKPP Natuna edukasi panitia tangani hewan kurban yang higienis

Rabu, 27 Mei 2026 17:34 WIB
Image Print
Proses edukasi kesehatan organ dalam sapi kepada panitia pada Rabu (27/5/2026). ANTARA/Muhamad Nurman

Natuna (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, bersama Satuan Pelayanan (Satpel) Balai Karantina memberikan edukasi kepada panitia kurban terkait cara menangani hewan dan daging kurban yang higienis.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Natuna, Zulfikar di Natuna, Rabu, mengatakan edukasi dilakukan sejak 26 Mei 2026, dengan mendatangi langsung lokasi penyembelihan hewan kurban.

Menurut dia, edukasi tersebut penting untuk memastikan hewan kurban yang dikonsumsi masyarakat aman dan layak konsumsi. Edukasi merupakan bagian dari pemeriksaan ante mortem dan post mortem.

Ante mortem merupakan pemeriksaan fisik luar sebelum sapi di sembelih, sementara post mortem berupa pemeriksaan karkas dan organ hewan setelah penyembelihan.

Tujuan pemeriksaan adalah untuk mendeteksi penyakit, kelainan patologis, serta memastikan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal dikonsumsi masyarakat.

“Hari ini kita melakukan pemeriksaan post mortem hewan kurban, seperti hati, jantung, limpa, paru-paru, dan ginjal. Untuk ante mortem kita lakukan semalam. Selama proses pemeriksaan kita edukasi panitia,” ucap dia.

Edukasi diberikan langsung kepada panitia kurban dengan memperlihatkan kondisi fisik luar hewan, karkas dan organ hewan ternak oleh dokter hewan, Paramedik Karantina Kepri serta kader di setiap titik penyembelihan.

Pada kegiatan itu para petugas memperlihatkan kondisi organ yang diperiksa dan cara mengetahui hewan dalam kondisi sehat, normal dan layak di konsumsi.

“Hasil pemeriksaan post mortem di Kecamatan Bunguran Timur Laut menunjukkan seluruh hewan dalam kondisi sehat,” katanya.

Sementara itu, Dokter Hewan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Hewan DKPP Natuna, Siti Marhamah, mengatakan pemeriksaan post mortem dilakukan secara sistematis menggunakan metode inspeksi (melihat atau mengamati), palpasi (meraba), dan insisi (menyayat atau membuka organ).

Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi penyakit zoonosis, menentukan kelayakan karkas dan organ, menemukan kelainan patologis, serta menjamin keamanan pangan asal hewan.

“Secara umum, hati, jantung, dan limpa yang sehat berwarna merah kecokelatan. Paru-paru berwarna merah muda terang. Hati yang normal terasa padat namun elastis saat dipegang, jantung sangat kenyal dan elastis, paru-paru terasa seperti spons atau bunga karang, sedangkan limpa juga kenyal dan elastis,” ujar dia.



Pewarta :
Editor: Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026