
Buruh Batam Unjukrasa Tuntut Kenaikan Upah

Batam (Antara Kepri) - Ribuan massa Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Batam, Kamis siang berunjukrasa menuntut kenaikan upah minimum kota (UMK) pada 2014 sebesar 50 persen dari upah pada 2013 yang mencapai Rp2,04 juta.
"Kami minta UMK tahun depan (2014) harus di atas Rp3 juta, itu sesuai dengan kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar yang saat ini sudah berlaku," kata koordinator Garda Metal FSPMI Batam, Suprapto.
Ia mengatakan, mayoritas penduduk Batam yang bekerja sebagai buruh menginginkan hidup layak dan menolak 'rezim' upah murah yang selama ini berlaku.
"Kami tidak mau lagi dibodoh-bodohi oleh pengusaha dan pemerintah. Kami ingin mendapatkan upahlayak dan kehidupan yang lebih baik," kata dia.
Selain menuntut kenaikan UMK, massa yang didominasi pekerja sektor elektronik dan galangan kapal tersebut juga menuntut pemberlakukan jaminan kesehatan diberlakukan mulai 1 Januari 2014.
"Kami ingin BPJS dilakukan serentak mulai 2014, bukan dengan cara bertahap agar buruh mendapatkan jaminan dari pajak yang setiap bulan selalu dibayarkan," kata Suprapto.
Aksi tersebut juga mendapat dukungan Anggota Komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka yang hadir dan turut berorasi di halaman Kantor Wali Kota Batam.
Dari atas atap mobil pickup, Rieke menyatakan sikap, menolak revisi Permenakertrans 17/2005 yang hanya menaikkan 60 komponen hidup layak (KHL).
"Apakah kebutuhan naik? Apakah BBM naik? Apakah upah naik? buruh harus perjuangkan, UMK naik minimal 30 persen sama dengan kenaikan harga BBM," teriak Rieke.
Rieke meminta agar buruh, pengusaha dan pemerintah, duduk bersama untuk merumuskan solusi terbaik dengan melakukan pembahasan UMK secara transparan. Ia mengatakan kondisi negara memang tengah sulit, namun hal tersebut bukan karena buruh.
Legislator PDI-P tersebut mengatakan saat ini ekspor dinaikkan. Kenaikan ekspor merupakan sumbangsih industri, yang tidak mungkin naik kalau didalamnya tidak ada buruh.
"Upah merupakan nyawa untuk kaum buruh. Buat apa bekerja? buat apa investasi kalau tidak untuk buruh," kata dia.
Ia menilai, saat ini ada persoalan yang tidak berpihak kepada rakyatnya sendiri karena ketika kenaikan harga BBM, upah buruh sama sekali tidak naik.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
