Logo Header Antaranews Kepri

Pengajar Bakti Bangsa Bina Pelajar Kampung Melayu

Minggu, 13 Maret 2016 21:03 WIB
Image Print
Hari ini kami mengumpulkan anak-anak usia SD, berkenalan, kemudian kami mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi anak-anak itu terutama terkait pendidikan

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pengajar muda Komunitas Bakti Bangsa membina karakter pelajar sekolah dasar yang mayoritas adalah warga Kampung Melayu di Tanjungpinang, ibu kota Kepulauan Riau, Minggu.

Sekitar 40 pelajar mengikuti program Gerakan Tanjungpinang Mengajar yang dilaksanakan Komunitas Bakti Bangsa di sebuah surau di Kampung Melayu, yang berdekatan dengan Pelabuhan Sri Payung Tanjungpinang.

"Hari ini kami mengumpulkan anak-anak usia SD, berkenalan, kemudian kami mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi anak-anak itu terutama terkait pendidikan," kata pengajar muda Komunitas Bakti Bangsa Nurasliza.

Melalui permainan sederhana dan diskusi, Nurasliza yang juga mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji bersama pengajar muda lainnya dari kampus yang sama mengantongi berbagai permasalahan yang dihadapi anak-anak tersebut dalam meningkatkan prestasi di sekolah.

Masing-masing pelajar yang masih berusia anak-anak memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Namun secara umum mereka membutuhkan perhatian, bimbingan dan kasih sayang dari keluarganya, khususnya saat melaksanakan tugas sekolah di rumah.

"Pada umumnya mereka adalah anak-anak yang cerdas, terbuka menerima pengetahuan, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka anak-anak yang baik," katanya.

Delviarama, pengajar muda lainnya, menambahkan Komunitas Bakti Bangsa akan memfasilitasi anak-anak di usia sekolah yang tidak sekolah atau putus sekolah.

"Kami akan mendorong pemerintah untuk mengurusi permasalahan itu agar anak-anak ini dapat bersekolah dengan baik sehingga dapat menggapai cita-cita sebagai generasi penerus bangsa," ujarnya.

Selain permasalahan pendidikan, kata dia warga Kampung Melayu kesulitan air bersih. Bahkan di surau juga tidak memiliki toilet dan air untuk berwudhu.

Warga juga tidak memiliki tempat pembuangan sampah sehingga terbiasa membuang sampah ke laut.

"Anak-anak yang tinggal di kampung ini juga buang sampah di laut. Kami mendesak pemerintah untuk menyediakan tempat pembuangan sampah, dan petugas yang mengangkut sampah tersebut," katanya.

Sementara itu, Febri, pengajar muda lainnya yang juga Sekretaris Komunitas Bakti Bangsa Tanjungpinang mengatakan program pendidikan gratis yang dilaksanakan di Kampung Melayu merupakan program lanjutan, setelah para pengajar muda memberi pendidikan gratis selama sekitar enam bulan di Sei Ladi Tanjungpinang.

"Sejak tahun 2012, kami sudah memberi pendidikan kepada ratusan anak-anak yang tinggal di kawasan terpencil. Kami sudah mengajar anak-anak nelayan, petani dan pemulung di delapan desa dan kampung di Tanjungpinang dan Bintan," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026