
DPD RI Minta Imigran di Batam Dilokalisir

Karena tidak ada kepentingan mereka bersentuhan dengan masyarakat lokal
Batam (Antara Kepri) - Ketua Komite III DPD RI Hardy Selamat Hood meminta pemerintah pusat segera melokalisir tempat pengungsian imigran pencari suaka di Kota Batam, Kepulauan Riau, demi menghindari konflik sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
"Menjelang proses tindak lanjut, agar imigran itu di-'cluster'," kata Hardi Selamat Hood di Batam, Minggu.
Permintaan itu menyusul terungkapnya kasus asusila yang melibatkan sejumlah imigran, mencari uang sebagai gigolo.
Menurut dia, tempat tinggal imigran pencari suaka harus dijauhkan dari lingkungan masyarakat, agar di antaranya tidak terjadi interaksi negatif.
"Karena tidak ada kepentingan mereka bersentuhan dengan masyarakat lokal," kata Hardi.
Namun ia mengingatkan, bila pencari imigran dilokalisir, maka harus dicarikan tempat yang dilengkapi dengan infrastruktur dasar, demi mencukupi kebutuhannya.
Selama ini, imigran di Batam bertempat di tiga lokasi, yaitu di Rudenim yang dikelola Ditjen Imigrasi, di Hotel Kolekta yang dibiayai International Organization of Migration (IOM) dan di tenda-tenda yang dibangun sendiri di Taman Aspirasi.
Tiga lokasi itu relatif dekat dengan kehidupan masyarakat. Apalagi Hotel Kolekta yang berlokasi di tengah pemukiman masyarakat.
Hardi mengaku juga sudah menyampaikan masalah yang dialami Batam dalam Rapat Paripurna DPD RI di Jakarta beberapa waktu lalu, sebelum kasus gigolo terungkap.
Ia juga sudah meminta Kementerian Hukum dan HAM segera turun tangan ke kota yang berseberangan dengan Singapura dan Malaysia itu.
"Menkopolhukam harus bertindak. Pemerintah pusat harus segera turun, ini masalah antar bangsa," kata dia.
Ia menyayangkan terjadinya kasus gigolo di Batam, karena mencemarkan nama baik daerah daerah yang tengah dibangun Wali Kota bersama Gubernur.
"Padahal daerah sudah baik hati memberikan tempat," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : YJ Naim
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
