
Nelayan Karimun Diminta Waspada Hujan Disertai Badai

Hujan bisa turun kapan saja, bisa pagi atau malam hari. Fenomena La Nina merupakan salah satu pemicu musim hujan yang tahun ini lebih lama dibandingkan kemarau
Karimun (Antara Kepri) - Kalangan nelayan dan pelaku pelayaran di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau diminta agar waspada dengan curah hujan tinggi dan angin kencang pengaruh dari fenomena La Nina.
"Fenomena La Nina diprakirakan terjadi sampal awal tahun 2017. Nelayan harus waspada karena La Nina memicu tingginya curah hujan disertai angin kencang, namun terkadang diselingi cuaca panas," kata petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Tanjung Balai Karimun Pande Parwata di Tanjung Balai Karimun, Rabu.
Fenomena La Nina, kata Pande Parwata, merupakan gejala alam yang menimbulkan dinginnya suhu permukaan laut di Pasifik Tengah dan Timur. Dampak dari La Nina adalah curah hujan yang tinggi yang turut melanda perairan Kabupaten Karimun.
"Hujan bisa turun kapan saja, bisa pagi atau malam hari. Fenomena La Nina merupakan salah satu pemicu musim hujan yang tahun ini lebih lama dibandingkan kemarau," katanya.
Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang, lanjut dia, dapat membahayakan keselamatan pelaku pelayaran maupun nelayan terutama yang menggunakan kapal berbobot kecil.
"Jangan paksakan berlayar kalau cuaca mendung dan gelap. Sebaiknya jangan ke laut kalau cuaca kurang bagus. Ketinggian gelombang diperkirakan 0,6 meter dengan arus laut 10 centimeter per detik," ucapnya.
Dia mengatakan telah menginformasikan kepada masyarakat, dan menyampaikan prakiraan cuaca kepada pihak-pihak terkait untuk diteruskan kepada para nelayan dan pelaku pelayaran.
"Untuk warga di darat juga hati-hati, terutama daerah yang rawan banjir dan longsor," katanya lagi.
Mengenai kondisi cuaca dalam beberapa ke depan, dia memprakirakan Karimun berawan baik pagi, siang atau malam disertai hujan ringan, dengan kecepatan angin 5-35 kilometer per jam.
Sedangkan suhu udara diprakirakan sekitar 31 derajat celcius dengan kelembaban udara 96 persen.
Seorang nelayan Kolong, Tanjung Balai Karimun, Bujang mengatakan, dirinya mengurangi aktivitas menangkap ikan karena kondisi cuaca yang sering berubah mendadak.
"Cuaca kadang mendung dari pagi sampai siang. Kondisi seperti ini biasanya memicu gelombang di laut, sehingga kami mengurangi aktivitas menangkap ikan," kata Bujang.
Menurut Bujang, kondisi tersebut sudah biasa menjelang akhir tahun. Dia mengaku bekerja serabutan di darat untuk menambah penghasilan ketika hasil tangkapannya berkurang selama dua pekan terakhir. (Antara)
Editor: Biqwanto Situmorang
Pewarta : Rusdianto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
