Logo Header Antaranews Kepri

FKPT Kepri: Terorisme tidak berhubungan dengan agama

Senin, 14 Mei 2018 08:36 WIB
Image Print
Sejumlah warga mengikuti aksi Solidaritas dan Doa Bersama di Tugu Pal Putih, Yogyakarta, Minggu (13/5). Aksi yang diikuti ratusan warga dari 66 organisasi dan elemen masyarakat di Yogyakakarta itu menjadi bentuk solidaritas dan keprihatinan atas insiden bom bunuh diri di Surabaya. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Aksi terorisme itu dilakukan orang sesat, bukan karena ajaran agama. Karena agama apapun melarang membunuh orang lain,

Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Terorisme dan radikalisme tidak berhubungan dengan ajaran agama apapun, kata Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Kepulauan Riau (FKPT Kepri) Reni Yusneli.

"Aksi terorisme itu dilakukan orang sesat, bukan karena ajaran agama. Karena agama apapun melarang membunuh orang lain," kata dia kepada Antara di Tanjungpinang, Minggu.

Reni mengemukakan motif di balik aksi teror harus dapat diungkap. Bukan tidak mungkin teroris tersebut dibonceng oleh kepentingan tertentu yang tidak menginginkan Indonesia dalam kondisi aman.

"Motif perlu diungkap secara jelas sehingga dapat dilakukan langkah-langkah selanjutnya," katanya.

Menurut dia, aksi terorisme di tiga gereja di Surabaya Minggu pagi menunjukkan permasalahan terorisme belum tuntas di bumi nusantara. Peristiwa itu menunjukkan pula aksi terorisme dapat terjadi sewaktu-waktu.

"Itu yang berbahaya, dan perlu diwaspadai. Pengawasan harus diperketat mulai dari tingkat RT dan tempat-tempat yang banyak dikunjungi warga," kata Reni.

Namun kurang bijak bila dari peristiwa itu sejumlah pihak saling menyalahkan. Penanggulangan teroris bukan hanya tanggung jawab pihak kepolisian, Badan Intelijen Strategis, Badan Intelijen Negara, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan lembaga lainnya, melainkan juga tanggung jawab masyarakat.

"Permasalahan ini harus diselesaikan bersama-sama, tidak bisa kita hanya bebankan kepada aparat pemerintah, meski itu tanggung jawab mereka," katanya.

Reni berharap aksi teroris di Surabaya terakhir terjadi di Indonesia. Pencegahan terorisme dan radikalisme harus dilakukan mulai dari lingkungan terkecil seperti RT dan RW. Pengaktifan poskamling adalah cara sederhana untuk memperkuat pengamanan di lingkungan warga.

"Kami berharap peristiwa tidak manusiawi ini tidak terjadi lagi," tuturnya.

Terkait permasalahan itu, Reni berharap pengguna media sosial juga lebih selektif dan bijak mengirim gambar, video atau status. Gambar atau video yang tidak pantas disebar di media sosial sebaiknya tidak dilakukan.

"Teror melalui media sosial itu masih terjadi. Masih ditemukan gambar-gambar korban aksi teroris itu di media sosial. Masih ada juga komentar yang provokatif. Saya pikir ini harus segera ditertibkan Kementerian Informasi dan Komunikasi," pungkasnya. (Antara)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026