Potensi anyaman bambu melapuk di Tambelan

id Anyaman bambu,Tambelan,Pengrajin bambu

Hamimah (61) seorang pengayam bambu di Tambelan. (Antaranews Kepri/Saud MC Kashmir)

Menurut Hamimah, prakarya dari bambu pernah memegang peranan penting dalam perekonomian keluarga di Kecamatan Tambelan.
Bintan (Antaranews Kepri) - Tambelan yang dikenal sebagai suatu kecamatan terjauh dari pusat pemerintahan Bintan ternyata memiliki sumber daya manusia yang cakap dalam memanfaatkan hasil hutan, satu di antaranya adalah karya tangan olahan bambu.

Namun, potensi anyaman bambu di Tambelan ini mulai melapuk dimakan usia akibat tidak adanya re-generasi di daerah yang berbatasan langsung dengan Pulau Kalimantan.

"Keterampilan ini tidak diminati para pemuda di Tambelan, sehingga belum ada re-generasi yang memiliki kecakapan dalam bidang tersebut," kata salah seorang penganyam bambu di Tambelan, Hamimah (61) kepada Antara, Senin.

Sehingga kata Hamimah tidak heran jika keterampilan mengayam bambu di Kecamatan Tambelan masih dipegang oleh kalangan tua di tengah masyarakat pulau tersebut.

Di sisi lain lanjut Hamimah, warga Desa Hilir mengaku produksi kerajinan bambu yang dibuat juga sulit laku. Sehingga tidak sedikit karya tangan Hamimah melapuk di pajangan.

Dalam setahun ia pun tidak berani menjamin produksi anyaman bambu yang ia buat bisa terjual.

" Makanya, dalam hal ini saya pun mengharapkan agar pemerintah dapat membantu mencarikan solusi supaya kerajinan tangan yang dibuat dapat terjual," tuturnya.

Bahkan Hamimah menginginkan untuk mendapat binaan dari pemerintah, agar hasil produksinya lebih berkualitas, dan penjualan tidak hanya di Tambelan melainkan dapat terjual sampai ke luar daerah.

"Binaan seperti itu tidak ada di Tambelan ini, sehingga kerajinan yang kami buat sulit terjual," kata Hamimah.

Menurut Hamimah, prakarya dari bambu pernah memegang peranan penting dalam perekonomian keluarga di Kecamatan Tambelan. Karena ia pun dibesarkan dari keluarga yang menekuni bidang tersebut.

Dalam kisah hidupnya, Hamimah selalu ditemani suami menyebrangi pulau dengan mendayung perahu untuk mencari bambu yang berkualitas sampai saat ini.

"Olahan kerajinan bambu sejak dulu sudah ada, bambu dapat dijadikan berbagai macam kerajinan, terutama untuk perabot rumah tangga dengan harga yang bervariasi," kata dia.

Menurut dia, identifikasi bambu yang bagus untuk anyaman dilihat dari cabang bambu yakni bercabang tiga.

Cabang tersebut merupakan kode alam yang menyatakan bahwa bambu itu berusia sedang, artinya tidak terlalu muda dan tidak tua, serta memilih bambu yang tipis.

Selanjutnya, buluh tersebut dikikir dan dibenit atau dikupas kecil. Setelah itu diberi pewarna sesuai keinginan.

"Setelah proses pencelupan warna, bambu tersebut kemudian dijemur dan barulah dapat dianyam berbagai kerajinan," ucapnya.

Kerajinan bambu kata Hamimah dapat dijadikan atribut kelengkapan makan atau pun perabot di dapur, seperti nyiru, bakul atau gagak atau keranjang dan lain-lain.

"Hingga saat ini, hanya sedikit orang yang bisa menganyam, karena anak jaman sekarang sudah jarang membuatnya, apalagi sekarang banyak perabot langsung jadi. Sehingga, kerajinan mengayam bambu semakin jarang diminati," ujarnya.

Kurangnya minat terhadap kerajinan dan kepedulian pemerintah untuk membudayakan seni anyaman tersebut membuat ia khawatir bahwa seni kerajinan mengayam di Tambelan bisa hilang.

"Semoga re-generasi ini di Tambelan dapat terus mengalir, dan pemerintah setempat lebih peka lagi terhadap kami yang berada jauh dari pusat perhatian," pungkasnya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Danna Tampi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar