
Waspadai inflasi akibat rupiah melemah

Sejak dulu, kata dia, produk dari berbagai negara, terutama Singapura dan Malaysia membanjiri pasar Kepri. Harga produk asing yang dijual di Kepri tentunya dipengaruhi kurs dolar.
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Ing Iskandarsyah meminta pemerintah daerah mewaspadai inflasi yang didorong melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
"Potensi kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat akibat kurs dolar terhadap rupiah meningkat hingga mencapai Rp15.000 per 1 dolar Amerika," ujarnya di Tanjungpinang, Rabu.
Iskandarsyah yang juga Ketua Fraksi Keadilan Sejahtera-PPP DPRD Kepri mengemukakan, pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika sangat besar, karena Kepri berbatasan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.
Sejak dulu, kata dia, produk dari berbagai negara, terutama Singapura dan Malaysia membanjiri pasar Kepri. Harga produk asing yang dijual di Kepri tentunya dipengaruhi kurs dolar.
"Ini persoalan besar yang seharusnya segera diselesaikan pemerintah pusat dan daerah," katanya.
Iskandar mengatakan kenaikan harga barang yang menyebabkan inflasi dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Masyarakat akan cenderung tidak berbelanja karena harga barang tinggi dan perputaran rupiah menjadi terhambat.
Dampak yang paling buruk yang mungkin terjadi yakni jumlah keluarga miskin di Kepri meningkat.
Agar kondisi tidak makin buruk, sebaiknya pemerintah menyusun strategi anggaran perubahan 2018 lebih banyak untuk melindungi perekonomian masyarakat, seperti subsidi terhadap sembako dan operasi pasar untuk mencegah permainan spekulan saat kebutuhan meningkat.
"Pemerintah kabupaten dan kota, serta pemerintah provinsi harus bertindak cepat dan tepat untuk kepentingan rakyat. Tindakan yang tepat dapat mencegah terjadinya gelojak perekonomian dan sosial," tegasnya. (Antara)
Pewarta : Nikolas Panama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
