Merajut persatuan ala Neko Wesha Pawelloy

id merajut persatuan,DPRD Lingga,Neko Wesha Pawelloy

Neko berfoto bersama masyarakat Kepulauan Posek Kabupaten Lingga (Antaranews Kepri/Nurjali)

Saya tidak ingin menutup-nutupi apa yang terjadi, kita bicarakan apa adanya karena masyarakat memiliki hak untuk tahu, sebab saya ini kan hanya mewakili mereka
Lingga (Antaranews Kepri) - Merajut persatuan dan menyatukan keberagaman dengan berswafoto. Swafoto atau selfie dalam bahasa Inggris tersebut merupakan tren mode bagi kaum milenial, hal ini juga dilakukan Neko Wesha Pawelloy, salah satu anggota termuda di DPRD Kabupaten Lingga termuda di Kabupaten Lingga, dirinya menggambarkan swafoto untuk merajut kebersamaan.

"Meskipun saya yang tukang foto, tapi saya tetap masuk ke dalam foto itu, dan menjadikan pose yang menarik itulah pemuda tidak ada terbaik yang ada hanya persatuan yang membuat kita menjadi yang terbaik," sebutnya.

Politisi muda dari Partai Nasdem ini suka melakukan hal-hal sederhana, untuk menampung aspirasi masyarakat. Dari filosofi berswafoto beramai-ramai membuktikan bahwa kita bisa bersatu, karena semuanya menyatu dalam satu foto tanpa ada yang dikorbankan. Menjadi wakil rakyat atau mewakili masyarakat di kursi parlemen bukanlah hal mudah, butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri di kancah politik daerah, khususnya di Kabupaten Lingga.

Pria dengan nama lengkap Neko Wesha Pawelloy, alumni Universitas negeri jiran Malaysia ini, terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Lingga di usia 27 tahun. Memang tidak mudah bersaing dengan para seniornya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga, namun melalui tekad yang kuat dan tidak sungkan untuk bertanya serta belajar menjadikannya semakin mapan berada di kursi panas DPRD Kabupaten Lingga.

Sebagai anak muda dirinya tidak ingin disebut sebagai politisi kemarin sore, hal tersebutlah yang membuat di tahun kedua sebagai anggota DPRD dirinya terpilih menjadi ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lingga melalui lobi-lobi politik dan membangun citra kepemimpinan di hadapan para seniornya di DPRD Kabupaten Lingga.

"Saya sempat belajar lewat buku-buku yang saya beli, namun bagi saya guru terbaik itu adalah pengalaman dan praktek langsung dengan bertanya kepada yang lebih senior," ujar Neko Wesha Pawelloy kepada Antara, Sabtu.

Kesibukan sebagai seorang anggota DPRD Lingga tidak membuatnya, kaku untuk tetap berbaur dengan rekan-rekan pemuda dan masyarakat di sekitarnya.

Sifat rendah hati dan kesederhanaan, menurutnya menjadi modal yang besar untuk dapat terus mendengarkan aspirasi dari konstituen atau masyarakat yang telah memilihnya.

Selain itu, kejujuran dan bicara apa adanya didepan masyarakat, menjadi kenyamanannya selama empat tahun berada di kursi DPRD.

"Saya tidak ingin menutup-nutupi apa yang terjadi, kita bicarakan apa adanya karena masyarakat memiliki hak untuk tahu, sebab saya ini kan hanya mewakili mereka, dengan tranparansi dan jujur kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun daerah," ujarnya.

Gaya bicara yang khas logat melayu dan tidak menggunakan kalimat-kalimat layaknya seorang pejabat, membuat dirinya semakin mudah diterima oleh masyarakat. Di lain sisi selain sebagai anggota DPRD Lingga, dirinya juga merupakan anak dari orang nomor satu di Kabupaten Lingga, meskipun begitu tidak membuatnya harus selalu manut dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

"Di keluarga, beliau adalah ayah saya, tapi di pemerintahan adalah bupati dan saya perwakilan masyarakat jadi kebijakan-kebijakan yang tidak prorakyat akan saya tentang dan itu sudah saya buktikan di beberapa program yang tidak maksimal saya selalu bersuara lantang di setiap paripurna mengkritisi bupati," sebutnya.

Di akhir perbincangan Neko Wesha Pawelloy mengatakan, di bulan Oktober ini yang merupakan bulan bersejarah bagi Pemuda se-Nusantara karna lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang lalu, dirinya mengajak seluruh pemuda yang ada untuk membuktikan diri bahwa mereka mampu untuk bersama-sama bahu membahu membangun Kabupaten Lingga.  (Antara)
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar