Si Pancung, Sang Penghubung Batam Lama dan Batam Baru

id pancung,batam,KPPN,esanov putra

Boat pancung Batam

Esanov Putra*)

SINAR mentari mulai membayang terang di ufuk timur, seiring dengan perginya rembulan malam. Purnama baru saja menurun namun masih menyisakan terangnya. Sosok Bang Rahman lelaki keturunan melayu yang sudah lahir di Pulau Penawar Rindu bertolak keluar rumah menuju kepinggiran dermaga. Menuruni tangga demi tangga menuju ke sebuah perahu kayu bertenaga mesin berukuran sedang dengan kapasitas maksimum lebih kurang 15 orang. Pancung, begitu masyarakat Pulau Penawar Rindu menamainya.

Bang Rahman memeriksa 3 buah mesin tempel yang berada di bagian belakang Si Pancung kesayangannya. Suara menderu terdengar dari mesin berukuran 200 pk itu hidup untuk dipanaskan, dan itu menandakan hari Bang Rahman dalam mencari sesuap nasi dengan memberikan jasa transportasi telah dimulai. Sang Nahkoda selalu berharap semoga hari selalu cerah, sehingga tidak perlu energi ekstra bercampur kecemasan dalam menahkodai si Pancung.

“Akankah rindu akan terobati?”, begitu pertanyaan yang muncul seiring dengan mitos yang melatarbelakangi munculnya dari Julukan Pulau Penawar Rindu dari pulau yang bernama Belakang Padang ini.

Ungkapan penawar rindu ditujukan buat orang yang berasal dari luar Balakang Padang yang sudah pernah datang ke Balakang Padang, pasti akan rindu untuk kembali. Rindu akan suasananya, bahkan juga bagi hati yang telah terpikat, rindu akan kecantikan dan keelokan gadis Belakang Padang.

Para Pendekar Pantun pernah mengungkapkan “Kalau engkau dah kene air belakangpadang, engkau pasti nak datang lagi. Sebab pulau ini pulau penawar rindu”.

Nama Belakang Padang muncul seperti yang diceritakan turun temurun, dimulai pada zaman kolonial Belanda. Saat itu menir Belanda yang tinggal di Pulau Sambu memerintahkan warga yang multi etnik, salah satunya etnik jawa untuk membuat padang dalam bahasa Jawa yang berarti lahan sambil menunjuk  pulau yang ada di balakang Pulau Sambu.

Pekerjaan membuat  padang di belakang pulau Sambu ini lah yang dipercaya secara turun temurun yang melahirkan nama Belakang Padang.

Belakang Padang sudah lebih dahulu dikenal dikalangan pelaut dunia serta para pedagang. Berlokasi diantara perairan selat Malaka dan selat Singapura. Posisi pulau Belakang Padang secara geografis malah lebih dekat ke wilayah Singapura.

Dalam Pemerintahan Kota Batam, Belakang Padang merupakan area pertama dan tertua serta merupakan ibukota kecamatan Batam pada waktu itu. Dikemudian hari dipindahkan ke Pulau Batang dan kemudian berganti nama menjadi Pulau Batam. Gedung-gedung pemerintahan cukup banyak berdiri di Pulau Belakang Padang sebelum akhirnya pusat pemerintahan dipindahkan ke Pulau Batam.

Salah satu gedung pemerintahan tertua adalah Kantor Imigrasi Belakang Padang. Telah berdiri semenjak tahun 1951. Gedung pemerintahan lainnya seperti Gedung Nasional, Pos Angkatan Laut Pulau Sambu, Perumahan Bea Cukai, Kantor Polisi Belakang Padang, SMPN 1, Kantor Camat, Komplek Angkatan Laut.

Batam lama begitu istilah yang muncul dalam benak kita. Pada tahun 1983 Batam baru lahir dengan ditingkatkan statusnya, semula Kecamatan Batam menjadi Kotamadya Batam dibawah Propinsi Riau dan pada tahun 2002 menjadi kotamadya dalam Propinsi Kepulauan Riau.

Roda perekonomian terus berputar. Perkembangan sangatlah pesat di Batam baru dan sangat tidak sebanding dengan perkembangan di  Batam lama. Namun denyut kehidupan tetaplah harus berlanjut. Batam lama tetap menjadi penawar rindu diantara pesatnya perkembangan di Batam baru.

Si Pancung tetap menjadi primadona yang menghantarkan para penduduk dari Pulau Balakang Padang ke Pulau Batam. Dan tidak hanya itu, dari 6 kelurahan pada kecamatan Belakang Padang, 4 kecamatan berada diluar pulau Belakang Padang. Dan derit kehidupan disana dihubungkan oleh Si Pancung.

Sebagian penduduk yang berdomisili di Pulau Belakang Padang, mengais rejeki di Pulau Batam, sehingga si Pancung setidaknya 2 kali dalam sehari akan bertemu dengan para penduduk yang berlalu lalang.

Demikian juga sebaliknya, ada juga yang tinggal di Pulau Batam tapi bertugas atau bekerja di Pulau Balakang Padang, seperti ASN Imigrasi, Pegawai Pertamina, ASN KSOP Sambu, Anggota Polri dan lain-lain. Para pekerja APBN ini juga mendapatkan jasa si Pancung dalam mencairkan dana APBN dengan wara wiri ke KPPN Batam untuk mengantarkan SPM (Surat Perintah Membayar) serta keperluaan lainnya terkait pelaporan.

Kebutuhan sehari-hari masyarakat dalam skala kecil juga diangkut oleh Si Pancung, sementara dalam skala lebih banyak dihantar oleh Kapal Pompong.

Penawar rindu terhadap kuliner Balakang Padang juga dapat terobati berkat bantuan si Pancung. Dengan biaya 15 ribu sekali jalan dari Pelabuhan Rakyat Sekupang ke Pelabuhan Kuning Pulau Penawar Rindu dengan menempuh perjalanan lebih kurang 15 menit sudah dapat menawarkan rindu yang tertahan.

Jumlah si Pancung yang beroperasi mencapai puluhan, merupakan milik perorangan dan dikelola oleh suatu organisasi transportasi penyebarangan yang mengatur mulai dari tarif, jadwal, asuransi dan lain-lain.

Akankah si Pancung akan tergantikan oleh moda transportasi yang lebih modern?. Atau akankah si Pancung akan tetap bertahan menjaga detak nadi kehidupan yang menghubungkan Batam Lama dengan Batam Baru, antara Pulau Belakang Padang dan Pulau Batam.

Hanya para cendikia kedua daerah itu yang akan mampu menentukan apakah si Pancung akan menjadi ciri khas Batam Lama dan Batam Baru dengan menjadikan si Pancung sebagai suatu keunggulan sumber daya, atau akan membiarkan si Pancung terkubur dalam derasnya arus perkembangan.

Semoga sosok Bang Rahman, sang Nahkoda si Pancung tidak harus mengkandangkan si Pancung berganti bentuk lain wujud dari perkembangan transportasi yang lebih modern. Semoga sang Nahkoda tetap akan selalu bisa memanaskan mesin tempel pada si Pancung setiap menteri terbit diufuk timur.

*) Penulis merupakan Kepala Seksi Pencairan Dana, KPPN Batam, Kanwil DJPB Provinsi Kepulauan Riau



Keterangan : Isi dan maksud tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis, bukan tanggung jawab redaksi
Penulis :

COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar