Karimun, (ANTARA News) - Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau Hj Noorliza Nurdin mengatakan pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat membutuhkan tenaga guru yang berdedikasi tinggi.

''Kegiatan belajar mengajar bagi anak penyandang cacat jauh berbeda dengan anak normal. Tanpa dedikasi yang tinggi, guru tidak akan mampu menghadapi beragam perilaku anak-anak cacat,'' katanya saat meninjau kegiatan belajar mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Budi Bhakti di Pelipit, Tanjung Balai Karimun, Sabtu. 

Noorliza Nurdin mengatakan, seorang guru bagi anak penyandang cacat tidak sekadar menularkan ilmu sesuai kurikulum sekolah, tetapi memiliki kesabaran dan kasih sayang karena mereka akan dihadapkan dengan tingkah laku yang sebenarnya dianggap manusia normal sebagai sesuatu yang tidak wajar.

''Mohon maaf, seorang anak menderita autis bisa saja membuang kotorannya, atau kadang-kadang mereka hilang saat belajar sehingga merepotkan guru. Di sinilah kesabaran guru dituntut agar mereka tetap dapat menuntut ilmu sebagaimana teman-teman yang normal,'' katanya.

Di Singapura, tuturnya, pendidikan untuk anak berkekhususan dilaksanakan oleh seorang guru yang tidak hanya saat jam belajar di ruang kelas tetapi juga turut membina anak didiknya di luar jam belajar membantu orang tua yang kerepotan mengatasi perilaku anaknya.

''Sistem belajarnya juga dibedakan saat memasuki kelas II atau III SD sesuai dengan kompetensi siswa,'' ucapnya.

Menurut dia, penyandang cacat berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan hidup sesuai bakat yang dimiliki. 

''Peranan masyarakat dan pemerintah tentu menentukan kesetaraan mereka dengan manusia normal. PKK mendorong pendidikan anak cacat dan memberikan keahlian,'' katanya.

PKK juga, kata dia, mendukung penuh rencana memberikan motivasi bagi anak cacat dalam Peringatan Hari Penyandang Cacat (Hipenca) se-Dunia yang akan diperingati pada 19-20 Desember mendatang.
    
Fasilitas Minim

Di tempat yang sama, Kepala SLB Budi Bhakti Budi Prayitno mengatakan fasilitas belajar mengajar untuk anak cacat masih minim dan mengandalkan donatur yang terbatas.

''Hanya beberapa donatur yang menyumbang setiap bulan. Kami berharap dukungan dana dari pemerintah daerah diperkuat,'' katanya.

Menurut Budi Prayitno, di sekolah tersebut terdapat 64 anak penyandang cacat, seperti tuna rungu, tuna netra, autis dan seratus anak terlantar.

''Saat ini terdapat 30 tenaga pengajar yang mendedikasikan dirinya untuk mengabdi di SLB ini,'' katanya.

Dia mengatakan, pendidikan bagi penyandang cacat membutuhkan guru yang banyak karena setiap penyandang cacat membutuhkan satu guru karena pola belajarnya tidak sama dengan penyandang cacat yang lain.

''Sistem belajar tuna rungu tidak sama dengan tunanetra, karena itu kegiatan belajarnya dipisah-pisah yang membutuhkan guru khusus,'' katanya.

Para siswa penyandang cacat tersebut, lanjut dia, akan menggelar aneka lomba sebagai motivasi dalam peringatan Hipenca 19-20 Desember mendatang.

''Penyandang cacat dari Batam dan Tanjungpinang dijadwalkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut,'' tambahnya. (ANT-028/Btm2)