Fadel: Pemerintah Prioritaskan Program Budidaya Perikanan
Senin, 30 Mei 2011 14:34 WIB
Batam (ANTARA News) - Pemerintah lebih memprioritaskan pengembangan budidaya perikanan ketimbang program ikan tangkap untuk meningkatkan produksi ikan di Indonesia, kata Menteri Kelautan dan Perikanan.
"Selain bermodal lebih murah, budidaya ikan berpotensi meningkatkan hasil perikanan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam temu koordinasi pengembangan kelautan dan perikanan Provinsi Kepulauan Riau di Batam, Minggu (29/5) malam.
Menurut dia, pola pikir masyarakat harus diubah, agar mau menjadi nelayan budidaya.
Bila terus mengutamakan ikan tangkap maka akan sulit meningkatkan produksi, karena jumlah ikan makin sedikit, kata dia.
Ia mengemukakan, pada 2009 jumlah ikan di perairan Indonesia mencapai tujuh juta ton, namun saat ini hanya tersisa sekitar dua juta ton.
"Dengan jumlah tersebut maka mustahil bisa meningkatkan produksi dari hasil tangkapan," ujar dia.
Fadel mengatakan, berdasarkan data Bank Dunia pada 2010, sektor perikanan menyumbang 23 persen pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara untuk Provinsi Kepulauan Riau sumbangan dari sektor kelautan dan perikanan mencapai 31,1 persen.
Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi penghasil ikan terbesar pada 2015, sementara saat ini, Indonesia menjadi negara penghasil ikan terbesar ke empat.
Provinsi Kepri menjadi salah satu daerah yang akan dijadikan pusat pengembangan perikanan di Indonesia.
Tiga sektor utama yang menjadi perhatian Fadel untuk Provinsi Kepri, yaitu pengembangan budidaya, pengawasan perikanan, dan pengembangan kawasan wisata bahari.
"Hal tersebut tentu saja melalui konsep matang yang kami sebut revolusi biru," ucap dia.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga menggalakkan konservasi dan rehabilitasi yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata kelautan. Satu daerah yang akan dikembangkan adalah Kabupaten Kepulauan Anambas.
Selain Anambas, wilayah kepulauan yang akan dijadikan basis wisata kelautan yaitu Berau di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Sumatra.
Untuk pengembangan wisata bahari, Kementerian Kelautan dan Perikanan dibantu Kementerian PU, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan lainnya.
Sementara itu, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, kata dia, pada 2012 akan dilakukan pembangunan 16.000 rumah bagi nelayan. Target program pengembangan nelayan akan dilaksanakan di 10.600 desa pesisir tertinggal.
Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo mengatakan, hingga lima tahun ke depan produksi perikanan budidaya di Kepri akan ditingkatkan hingga 80 persen.
"Saat ini produksi ikan tangkap di Kepri mencapai 275.453 ton/tahun, sedangkan sektor budidaya baru mencapai 5.943 ton/tahun," kata Soerya.
(ANT-YJN/M026/Btm3)
"Selain bermodal lebih murah, budidaya ikan berpotensi meningkatkan hasil perikanan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam temu koordinasi pengembangan kelautan dan perikanan Provinsi Kepulauan Riau di Batam, Minggu (29/5) malam.
Menurut dia, pola pikir masyarakat harus diubah, agar mau menjadi nelayan budidaya.
Bila terus mengutamakan ikan tangkap maka akan sulit meningkatkan produksi, karena jumlah ikan makin sedikit, kata dia.
Ia mengemukakan, pada 2009 jumlah ikan di perairan Indonesia mencapai tujuh juta ton, namun saat ini hanya tersisa sekitar dua juta ton.
"Dengan jumlah tersebut maka mustahil bisa meningkatkan produksi dari hasil tangkapan," ujar dia.
Fadel mengatakan, berdasarkan data Bank Dunia pada 2010, sektor perikanan menyumbang 23 persen pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara untuk Provinsi Kepulauan Riau sumbangan dari sektor kelautan dan perikanan mencapai 31,1 persen.
Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi penghasil ikan terbesar pada 2015, sementara saat ini, Indonesia menjadi negara penghasil ikan terbesar ke empat.
Provinsi Kepri menjadi salah satu daerah yang akan dijadikan pusat pengembangan perikanan di Indonesia.
Tiga sektor utama yang menjadi perhatian Fadel untuk Provinsi Kepri, yaitu pengembangan budidaya, pengawasan perikanan, dan pengembangan kawasan wisata bahari.
"Hal tersebut tentu saja melalui konsep matang yang kami sebut revolusi biru," ucap dia.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga menggalakkan konservasi dan rehabilitasi yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata kelautan. Satu daerah yang akan dikembangkan adalah Kabupaten Kepulauan Anambas.
Selain Anambas, wilayah kepulauan yang akan dijadikan basis wisata kelautan yaitu Berau di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Sumatra.
Untuk pengembangan wisata bahari, Kementerian Kelautan dan Perikanan dibantu Kementerian PU, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan lainnya.
Sementara itu, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, kata dia, pada 2012 akan dilakukan pembangunan 16.000 rumah bagi nelayan. Target program pengembangan nelayan akan dilaksanakan di 10.600 desa pesisir tertinggal.
Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo mengatakan, hingga lima tahun ke depan produksi perikanan budidaya di Kepri akan ditingkatkan hingga 80 persen.
"Saat ini produksi ikan tangkap di Kepri mencapai 275.453 ton/tahun, sedangkan sektor budidaya baru mencapai 5.943 ton/tahun," kata Soerya.
(ANT-YJN/M026/Btm3)
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan Ketua pengadilan negeri Jaksel dituntut 15 tahun penjara soal kasus suap CPO
29 October 2025 15:08 WIB
Mentrans ingin jadikan Tanjung Banun sebagai desa mandiri seperti di Eropa
25 September 2025 14:37 WIB
Wabup Natuna ajak warga teladani Rasulullah untuk perkuat tali persaudaraan
05 September 2025 11:58 WIB
Prabowo beri tumpeng ke polisi berprestasi bangun sekolah untuk anak pemulung
01 July 2025 12:41 WIB
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Pelindo Tanjungpinang layani 221.466 penumpang selama Natal dan Tahun baru
24 January 2026 18:19 WIB