Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Aktivis gerakan mahasiswa mendesak Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, serius menangani permasalahan kelangkaan premium dan solar.

"Kelangkaan premium dan solar jangan dianggap sebelah mata, karena merupakan permasalahan serius yang harus ditangani pemerintah bersama Pertamina dan kepolisian," kata Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tanjungpinang, Askarmen Harun, Selasa.

Jika kuota premium dan solar yang didistribusikan pihak Pertamina ke stasiun pengisian bahan bakar di Tanjungpinang sesuai dengan kebutuhan, maka pemerintah dan pihak kepolisian berkewajiban mencari pelaku yang menyebabkan bahan bakar tersebut menjadi langka di pasaran.

"Kuat dugaan kelangkaan premium dan solar di Tanjungpinang disebabkan penyalahgunaan bahan bakar bersubsidi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan," ungkapnya.

Pemerintah Kota Tanjungpinang dinilainya lambat menangani permasalahan kelangkaan solar dan premium tersebut, karena permasalahan itu sudah lama terjadi.

Semestinya pemerintah harus lebih serius mengatasi permasalahan itu, ketimbang sibuk menggelar kegiatan seremonial karena kelangkaan solar dan premium dapat menghambat kegiatan masyarakat dan pemerintahan.

"Kami menilai pemerintah lebih menyukai kegiatan serimonial, daripada mengurusi permasalahan solar dan premium. Padahal bahan bakar itu sangat dibutuhkan untuk berbagai kegiatan," katanya.

Kelangkaan solar terjadi sekitar dua bulan lalu. Solar bersubsidi diduga digunakan untuk kepentingan penambangan.

"Sedangkan, kelangkaan premium seperti penyakit yang terkadang sembuh dan kemudian kambuh lagi. Kelangkaan premium, uniknya, terjadi setiap Minggu hingga Selasa," ujarnya. 

Sejak premium langka, jumlah pedagang eceran bahan bakar itu semakin banyak di kaki lima Tanjungpinang.

Mereka membeli di SPBU dan menjual ke konsumen dalam botol-botol plastik volume 1,5 liter.

(KR-NP/A013)